Ghuluw secara etimologi ialah berlebihan, naik , melampaui batas dan secara syara’ berlebihan dalam suatu perkara dan bersikap ekstrem padanya dengan melampaui batas yang telah di syari’atkan (Fathul Bari 13/ hal 291).

Penyakit langsung muslim yang bernuansa afeksi salah satunya ialah sikap Ghuluw atau berlebih-lebihan. Ghuluw merupakan sikap yang melampaui batas kebenaran dan sesuatu yang berlebihan akan keluar dari jalan yang lurus.
Dalam surat an Nisa’ : 170

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلا الْحَقَّ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَلا تَقُولُوا ثَلاثَةٌ انْتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ إِنَّمَا اللَّهُ إِلَهٌ وَاحِدٌ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلا

Wahai Ahli Kitab, janganlah kau melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kau mengatakan terhadap Tuhan kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putra Maryam itu, ialah utusan Tuhan dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kau kepada Tuhan dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kau mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Tuhan Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Tuhan dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi ialah kepunyaan-Nya. Cukuplah Tuhan sebagai Pemelihara.


قَوْمٍ أَهْوَاءَ تَتَّبِعُوا وَلا الْحَقِّ غَيْرَ دِينِكُمْ فِي تَغْلُوا لا الْكِتَابِ أَهْلَ يَا قُلْ
 السَّبِيلِ سَوَاءِ عَنْ وَضَلُّوا كَثِيرًا وَأَضَلُّوا قَبْلُ مِنْ ضَلُّوا قَدْ

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kau berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kau mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.”
Ghuluw dalam agama berarti sikap dan perbuatan berlebih-lebihan dan melampaui apa yang dikehendaki syari’at baik berupa keyakinan maupun perbuatan.
Tuhan menyuruh insan untuk beribadah kepadaNya dan mendekatkan diri kepada Nya. Dan sikap berlebih-lebihan seorang individu dalam menjalankan ibadahnya merupakan hal yang dibenci oleh Tuhan dan RosulNya.
Seseorang yang melaksanakan sikap ghuluw disebabkan oleh :
1.    Kekurangan ilmu
2.    Tidak memahami hakikat agama
3.    Sempitnya wawasan
4.    Fanatisme buta

Syari’at Agama merupakan landasan seorang individu dalam menjalankan agamanya yang meliputi ubudiyah, munakahat dan muamalah. Sikapa ghuluw yang terjadi dalam syari’at merupakan hal penting yang perlu diperhatikan karena mampu mnyebabkan penyimpangan yang besar dalam agama dan membawa pada dosa besar.
Menurut Imam al Razi ghuluw itu ada dua yakni ghuluw mahmudah ( terpuji) ibarat penelitian dalam mecari hakikat sesuatu dan berusaha menemukan argumentasi mutakallimun sedangkan ghuluw madzmumah (tercela) yang mampu mela
Sikap berlebihan ini mampu terjadi dalam tiga aspek syari’ah tadi. Individu berlaku ghuluw karena mereka belum memahami secara tepat syari’at yang diterima.
Ghuluw Dalam ibadah dapat diartikan dengan mewajibkan dirinya kepada sesuatu yang tidak pernah diwajibkan Tuhan dan mengharamkan sesuatu untuk dirinya padahal Tuhan tidak pernah mengharamkan untuknya. Ada juga yang lebih mengutamakan ibadah sunnah daripada ibadah wajib.
Seperti dalam sebuah hadits dikisahkan bahwa:
Ada seorang sobat yang mengaku dihadapan Nabi bahwa ia shalat malam tiada berhenti-berhenti, puasa setiap hari dan tidak menikah. Rosulullah pun terpengarah dengan sikap ekstrem tersebut.
Beliau menjawab:

أنتم الذين قلتم كذا وكذا ؟ أما والله إني لأخشاكم لله و أتقاكم له لكنّي أصوم و أفطر و أصلّي وأرقد وأتزوّج النساء فمن رغب عن سنتي فليس منّي

 

“ kaliankah yang mengatakan begini dan begini? Adapun diriku, demi Azza wa Jalla saya ialah orang orang yang paling takut dan paling taqwa kepadaNya, tetapi saya berpuasa saya juga berbuka saya sholat dan saya juga tidur serta menikahi wanita dan barang siapa yang tidak suka dengan sunnah ku maka ia bukan adegan ku”
Ghuluw itu dilarang dalam agama sebagaimana yang telah dilakukan oleh jago kitab pada zaman dulu sehingga membawa penganutnya berada pada jalan yang menyimpang dan tidak diridhoi oleh Tuhan SWT.
Iklan
Mengenai keimanan antara keimanan kepada Tuhan dan pengalaman ajaranNya dengan kesehatan mental. Dalam Al qur’an banyak ayat yang menunjukkan bahwa untuk mencapai insan kamil harus benar-benar dapat sinergis antara agama dan kehidupan sebagaimana hal dibawah ini :

1.    Surat at tin mengisyaratkan bahwa insan akan mengalami kehidupan yang hina atau jatuh martabatnya termasuk juga psikologis yang tidak nyaman (mentalnya tidak sehat)  kecuali orang-orang yang beriman dan berinfak shaleh (berbuat kebajikan)
2.    Senada dengan surat at tin yaitu surat al ashr yaitu bahwa semua insan itu merugi (celaka hidupnya), tidak tentram atau perasaan gundah dan gelisah kecuali orang-orang yang beriman, berinfak sholeh dan saling mewasiati dengan kebenaran dan kesabaran
3.    Surat ar ra’du ayat 28 yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan berdzikir kepada Yang Mahakuasa lah hati akan menjadi tentram (bahagia)
4.    Surat al baqoroh ayat 112 yaitu tidaklah demikian barang siapa yang menyerahkan diri kepada Yang Mahakuasa sedang ia berbuat kebajikan maka baginya yakni pahala pada sisi TuhanNya dan tiidak ada kekuatiran atau kecemasan dan tidak pula kesedihan bagi mereka
5.    Surat al ahqof ayat 13 yaitu bekerjsama orang yang menyatakan Tuhan kami yakni Allah, kemudian mereka tetap istiqomah (teguh pendirian keimanan kepada Yang Mahakuasa dan menjalankan syriatNya) maka tidak ada kekhawatiran bagi mereka dan tidak pula berduka cita
6.    Surat al isra ayat 82 yaitu dan kami menurunkan dari al qur’an sebagai obat (penawar) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman
Konsep muslim ideal menurut Maslow dan Mittehnann yakni sebagai berikut :
1.    Memiliki perasaan aman (sense of security) yang tepat, bisa mengadakan kontak sosial dalam keluarga bidang kerja dan masyarakat
2.    Penilaian diri (self evaluaton) dan insight rasional. Ada rasa harga diri yang cukup memiliki perasaan sehat secara mental tanpa ada rasa berdosa. Mempunyai kemampuan mengetahui tingkah laku insan lain yang tidak sosial dan tidak human sebagai fenomena masyarakat
3.    Mempunyai spontanitas dan emosional yang tepat. Mampu menciptakan relasi berpengaruh dan dekat serta lama. Misalnya persahabatan dan relasi cinta, dll
4.    Mempunyai kontak dengan realitas secara efisien yaitu kontak dengan dunia fisik tanpa ada fantasi dan angan-angan yang berlebihan. Kontak dengan dunia sosial, berpandangan realitas dan cukup luas ihwal dunia manusia
5.    Memiliki dorongan dan nafsu jasmani yang sehat serta bisa untuk memenuhi dan memuaskan
6.    Mempunyai pengetahuan diri yang cukup antara lain dapat menghayati motif-motif hidup dalam kesadaran tahu akan nafsu dan hasrat, harapan dan tujuan hidup yang realistis dan dapat membatasi ambisi dalam batas normal
7.    Mempunyai tujuan hidup yang adekuat artinya tujuan dapat dicapai dengan kemampuan sendiri sifatnya realistis
8.    Memiliki kemampuan untuk berguru dari pengalaman hidupnya
9.    Ada kesanggupan untuk memuaskan tuntutan dan kebutuhan kelompoknya
10.    Mempunyai sikap emansipasi yang seht terhadap kelompok dan kebudayaannya. Dapat membedakan baik dan buruk
11.    Memiliki integrasi dalam kepribadiannya
Menurut thantowy, tercapainya suatu kelebihan hidup insan apabila tidak menunjukkan penyimpangan dari budpekerti dan tidak pula menunjukkan penyimpangan aqidah atau iman. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pentingnya membangun, membina, menerapkan pendidikan agama terhadap anak semenjak dini. Karena nilai-nilai agama yang terinteralisasi atau mempribadi semenjak kecil akan menjadi benteng budpekerti yang kokoh dan bisa mengontrol tingkah laku dan menjalin kehidupan serta menjadi obat anti penyakit gangguan jiwa. Agar penanaman kaidah agama tersebut mudah diamalkan oleh anak maka cara yang paling ampuh untuk ditempuhnya orang tua, guru dll yaitu dengan menawarkan pola tauladan yang baik. Orangtua dan guru mengemban misi untuk mengarahkan huruf anak melalui proses pendidikan dan pengajaran. Melalui proses pendidikan itu seorang guru akan menanamkan rasa cinta dan ketertarikan seorang anak pada ilmu pengetahuan, alasannya yakni ilmu pengetahuan pada hakikatnya merupakan simbol kemuliaan tertinggi pada setiap orang.  Tidak seorang pun yang tidak ingin menikmati ketenangan dan kebahagiaan hidup. Dan semua orang akan berusaha untuk mencarinya walaupun tidak semua bisa untuk dicapai sesuai dengan yang diinginkannya.
Psikologi dakwah yaitu merupakan psikologi praktis atau psikologi terapan, maka ruang lingkup pembahasannya pun berada dalam proses acara dakwah dimana sasarannya yaitu insan sebagai mahluk individu dan sebagai mahluk sosial. Di dalamnya melibatkan sikap dan kepribadian para juru dakwah atau penerang agama dalam menggarap sasaran dakwah yang berupa insan hidup yang punya sikap dan kepribadian pula. Hakikatnya psikologi dakwah berusaha menganalisis gejala-gejala kejiwaan, baik da’i ataupun mad’u yang terlibat dalam proses dakwah.


1.    Tujuan Mempelajari Psikologi Dakwah

a.    Untuk menumbuhkan pengertian, kesadaran penghayatan dan pengamalan aliran agama yang dibawakan oleh abdnegara dakwah atau penerang agama.
Oleh karena itu ruang lingkup dakwah dan penerangan Agama yaitu menyangkut problem pembentukan sikap mental dan pengembangan motivasi yang bersifat nyata dalam segala lapangan hidup manusia. Usaha demikian tidak bisa terlepas dari studi psikologi dakwah, karena psikologi dakwah menyangkut segala sesuatu yang menyangkut jiwa daripada da’i serta sasaran dakwah, baik secara individual maupun kelompok sosial.
b.    Memberikan landasan dan pedoman kepada metodologi dakwah.
karena metodologi gres dapat efektif dalam penerapannya bilamana didasarkan atas kebutuhan-kebutuhan hidup insan sebagaimana ditunjukkan kemungkinan pemuasannya oleh psikologi.
Manusia membutuhkan bermacam-macam hal. Mulai dari kebutuhan fisik menyerupai makanan dan pakaian, istirahat dan pergaulan seksual, hingga dengan keperluan psikis menyerupai keamanan dan ketentraman, persahabatan, penghargaan dan cinta kasih. Maka ia terdorong untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya itu. Bila tidak berhasil memenuhi kebutuhannya, ia akan merasa kecewa. Ia tidak senang. Keadaan inilah yang disebut frustasi. Psikologi mengobservasi bahwa keadaan frustasi dapat mengakibatkan perilaku keagaan. Orang yang mengalami frustasi, tak jarag mulai berkelakuan religius. Dengan jalan itu ia berusaha mengatasi frustasinya.
c.    Memberikan pandangan ihwal mungkinnya dilakukan perubahan tingkah laku atau sikap mental psikologis sasaran dakwah sesuai dengan contoh kehidupan yang dikehendaki oleh abdnegara dakwah atau penerangan agama itu.
Dengan demikian maka psikologi dakwah mempunyai titik perhatian kepada pengetahuan ihwal tingkah laku manusia. Pengetahuan ini mengajak kita kepada usaha mendalami dan memhami segala tingkah laku insan dalam lapangan hidupnya melalui latar belakang kehiduan psikologis. Perubahan tingkah laku insan gres terjadi bilamana ia telah mengalami proses berguru dan pendidikan, oleh karena itu psikologi dakwah pun memperhatikan problem pengembangan kognisi, konasi dan emosi dalam proses penghayatan dan pengamalan aliran agama. Sedang proses berguru tersebut banyak dipengaruhi faktor situasi dan kondisi kehidupan psikologis yang melingkupi insan itu sendiri.  

2.    Manfaat Mempelajari Psikologi Dakwah

Dengan memperhatikan faktor-faktor perkembangan psikologis beserta ciri-cirinya maka pesan dakwah yang disampaikan oleh juru dakwah akan dapat meresap dan diterima dalam langsung sasarannya dan kemudian diamalkan dengan sukarela serta dengan keyakinan sepenuhnya, karena hal tersebut benar-benar dapat menyentuh serta memuaskan akan kebutuhan hidup rohaniahnya.
Disini terletak titik berat taktik dakwah yang sesungguhnya dan mengamalkan message (pesan) yang disampaikan dengan hati ikhlas. Oleh karena itu sikap suka rela dalam penerimaan message (pesan) dakwah merupakan ciri khas kejiwaan, maka acara dakwah yang didasarkan atas pandangan psikologis mengandung sikap persuasif, motivatif, konsultatif serta edukatif.
Di dalam proses dakwah pasti terjadi komunikasi, dan komunikasi yang bertujuan untuk mengubah atau menghipnotis kepercayaan disebut komunikasi persuasif. Para hebat komunikasi seringkali menekankan bahwa persuasif yaitu acara psikologis. Persuasif dapat diartikan sebagai suatu proses menghipnotis pendapat, dan tindakan orang dengan menggunakan manipulasi psikologis, sehingga orang tersebut bertindak sebagai atas kehendaknya sendiri.
Akibat yang ditimbulkan dari acara persuasif yaitu sebuah nilai kesadaran, kerelaan disertai perasaan senang. Secara umum efek nyata dari proses persuasif yaitu adanya kesadaran dan kerelaan komunikan untuk mengikuti pesan yang diterimanya.
Telah banyak eksperimen yang dilakukan para hebat mengenai perubahan sikap yang disebabkan oleh adanya pengaruh komunikasi, khususnya dalam relasi dengan komunikasi yang bersifat one side argument maupun two side argument. Yang dimaksud dengan one side argument, apabila komunikasi disampaikan dengan hanya melihat alasan-alasan atas dasar kepentingan sepihak saja, peranan komunikator aktif sekali dan sedikit sekali meminta peranan dari pihak komunikan, menyerupai ceramah yang berkisar one side argument. Berbeda dengan two side argument, disini komunikasi memberikan alasan-alasan tertentu dengan memperhatikan pula pandangan arus komunikasi antara kedua belah pihak yang terlibat dalam proses penyampaian tersebut, menyerupai secara diskusi.
Dari hasil eksperimen menawarkan bahwa ceramah dengan one side argument lebih bisa menghipnotis sikap mahasiswa ke arah isi ceramah tersebut daripada dengan cara diskusi. Sebaliknya cara diskusi, justru memperteguh sikap-sikap yang telah terdapat perubahan sikap di dalamnya.

Al-Ghazali dalam mengupas hakikat manusia, ia menggunakan empat term, yaitu: (1) al-qalb; (2) al-ruh; (3) al-nafs; dan (4) al-‘aql. Keempat istilah ini ditinjau dari segi fisik memiliki perbedaan arti. Menurut Al-Ghazali keempat istilah tersebut masing-masing memiliki dua arti, yaitu arti khusus dan arti umum.

1.    Qalb (Hati, Kalbu)
Kata qalb memiliki dua makna:
a.    Qalb yang berarti sepotong daging yang memiliki bentuk buah shanaubar, yang terletak pada sebelah kiri dada. Merupakan daging yang khusus dan di dalamnya ada lobang dan di dalam lobang itu ada darah yang hitam yang menjadi sumber ruh dan tambangnya.
Makna yang petama ini tidak dipakai dalam membahas yang berkaitan dengan agama ataupun ilmu mu’amalah (pengetahuan yang berkaitan dengan interaksi insan karena hal ini berkaitan dengan ilmu sains atau ilmu kedokteran bukan ilmu agama.
b.    Qalb yang berarti sesuatu yang halus (lathifah) yang bersifat rabbani ruhani. Makna qalb yang kedua ini mempunyai kaitan dengan sepotong daging yang dapat dilihat oleh mata.
Lathifah tersebut bekerjsama ialah jati diri insan atau hakikat manusia. Dia ialah komponen utama insan yang berpotensi memiliki daya tangkap atau persepsi, yang mengetahui dan mengenal, yang ditujukan kepadanya segala pembicaraan dan penilaian, dan yang dikecam dan dimintai pertanggungjawaban. Meski demikian, qalb dengan makna lathifah mempunyai kaitan dengan hati yang kasat mata dan kebanyakan logika insan akan selalu resah untuk mengetahui bagaimana keterkaitan tersebut. Adapun keterkaitannya itu bekerjsama mirip dengan keterkaitan  perangai-perangai yang terpuji dengan tubuh, dan sifat-sifat dengan yang disifati atau keterkaitannya antara orang yang memakai alat dengan alatnya atau keterkaitannya antara yang menempati dengan sesuatu yang ditempati.
Namun uraian lebih rinci perihal semua itu sedapat mungkin harus dihindari karena dua hal: pertama, bahwa hal itu berkaitan dengan ilmu mukasyafah (ilmu yang didapat lewat penyikapan spiritual) sedangkan yang dibahas dalam hal ini hanyalah yang termasuk dalam ilmu mu’amalah. Dan kedua, bahwa hal itu sama dengan upaya menyikap diam-diam ruh. Dan demikian itu termasuk apa yang tidak diungkapkan oleh Rasulullah Saw.
2.    Ruh (nyawa)
Dalam hal ini ruh juga mempunyai dua makna:
a.    Sesuatu yang ajaib (tidak kasat mata), yang bersemayam dalam rongga “hati biologis’, dan mengalir melalui urat-urat dan pembuluh-pembuluh, ke seluruh anggota tubuh. Adapun mengalirnya dalam tubuh dengan membawa limpahan cahaya-cahaya kehidupan, perasaan, penglihatan, indera pendengaran dan penciuman ke dalam semua anggota badan, adalh menyerupai melimpahnya cahaya dari pelita yang dikelilingkan ke seluruh penjuru rumah. Setiap kali pelita itu hingga ke sebuah ruangan, maka ruangan itu menjadi terperinci kesudahannya .
Adapun permisalan kehidupan ialah menyerupai di atas dinding-dinding rumah. Sedangkan ruh diibaratkan pelita/lampu. Dan berjalannya ruh atau gerakannya ialah mirip gerakan lampu pada sudut-sudut rumah dengan digerakkan lampu pada sudut-sudut rumah dengan digerakkan oleh penggeraknya. Para dokter apabila mengatakan perkataan ruh secara umum, maka yang mereka maksudkan yakni mirip dengan bukhar (uap atau gas) lembut yang dimatangkan oleh kehangatan hati. Akan tetapi hal ini tidak dibahas dalam ilmu Imu mu’amalah  karena hal demikian dipakai dokter dalam mengobati tubuh.
b.    Bagian dari insan yang halus (lathifah), yang memiliki kemampuan untuk mengetahui dan mencerap. Dan itulah yang dimaksud dalam firman Tuhan Swt. “katakanlah: “ruh itu termasuk Tuhanku” (al-Isra : 85). Begitulah, ruh memang ciptaan Tuhan yang amat menakjubkan, membuat kebanyakan logika dan pemahaman insan tak berdaya meliputi pengetahuan perihal hakikatnya.
3.    Nafs
Kata nafs juga mengandung beberapa makna (jiwa, sukma, diri, nafsu dan sebagainya). Namun dalam hal ini yang dibahas hanya dua makna saja:
a.    Terdapat dalam bahasa indonesia yang sama dengan kata ‘nafsu’ memiliki cakupan emosi atau amarah (ghadhab) dan ambisi atau hasrat (syahwah) dalam diri manusia. Makna yang inilah yang sering kali dipakai dalam kalangan para hebat tasawuf, karena mereka mengartikan kata nafs sebagai sesuatu yang mencakup sifat-sifat tercela pada diri insan .
b.    Yang halus yang telah disebutkan di mana pada hakikatnya dialah manusia, yaitu: sesuatu yang abstak yang membentuk diri insan secara hakiki. Tetapi nafsu itu disifati dengan sifat-sifat yang bermacam-macam menurut keadaannya. Jika ia dalam keadaan selalu damai dan tenteram (dalam mendapatkan ketentuan Tuhan Swt.) dan terhindar dari gelisah yang disebabkan oleh banyak sekali macam godaan ambisi, maka ia disebut nafs muthmainnah (jiwa yang tenteram) . Seperti dalam firman Tuhan Swt.,
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ (٢٧)ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً (٢٨)
“wahai nafs muthmainnah, kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan ridha dan diridhai sepenuhnya.” (QS Al-Fajr: 27).
Apabila tidak tepat ketenangannya, tetapi dia menjadi pendorong bagi nafsu-shahwat dan penentang atasnya, maka disebut nafsu lawwamah karena dia mencaci pemiliknya dikala ia teledor dalam beribadah kepada Tuhannya.
وَلا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ (٢)
“dan saya bersumpah dengan jiwa yang selalu mengecam” (QS Al-Qiyamah: 2).
Jika nafsu itu tunduk dan taat kepada tuntutan nafsu-shahwat dan dorongan-dorongan syaitan, maka dinamakan nafsu yang mendorong kepada kejahatan (ammarah bis suu’).
4.    Aql (Akal)
Kata logika juga memiliki beberapa makna, namun yang akan dibahas hanya dua arti:
a.    Aql ialah pengetahuan perihal hakikat segala sesuatu yang bertempat di hati.
b.    Yang dimaksud dengan kata aql ialah episode (dari manusia) yang memiliki kemampuan untuk menyerap pengetahuan. Dan kita mengetahui bahwa dalam diri setiap orang ada sesuatu wadah yang menampung pengetahauan. Selanjutnya, pengetahuan ialah sifat yang menetap dalam wadahtersebut, jadi, pengetahuan tidak identik dengan wadah yang menampungnya. Oleh karena itu, kata “akal” adakalanya juga untuk menyebutkan perihal wadah pengetahuan dalam diri orang itu. Dan itulah yang dimaksudkan Rasulullah Saw., “yang pertama kali diciptakan Tuhan ialah akal”. Sebab, pengetahuan adalah  sesuatu yang bersifat aradh (aksiden), tidak dapat dibayangkan sebagai ciptaan (makhluk) yang pertama. Tentunya wadahnya telah tercipta sebelumnya atau bersamaan dengannya. Juga karena tidak mungkin ditujukan pembicaraan kepadanya. Dalam kelanjutan hadits itu disebutkan bahwa Tuhan Swt. Berkata kepadanya “datanglah!” maka ia pun datang. Kemudian diperintahkan kepadanya, “pergilah!” maka ia pun pergi.
Secara etimologi, syirkah yaitu bercampur. Secara terminologi syirkah adalah, sebuah kontrak kerja sama kemitraan untuk meningkatkan nilai aset yang dimiliki setiap mitra dengan memadukan modal dan sumber daya.

A.    Rukun Syirkah
Rukun syirkah ada 3, yaitu:
a.    Adanya orang yang bersyirkah.
Yaitu sedikitnya terdiri dari dua orang, sedang banyaknya tidak terbatas.
b.    Adanya sesuatu yang disyirkahkan
Yaitu harus terdiri dari sesuatu yang terang dan merupakan sesuatu yang menjadi kemauan mereka serta yang dapat dilakukan atau dikerjakan oleh masing-masing.
c.    Adanya Shighat
Yaitu kalimat kesepakatan yang diucapkan oleh orang-orang yang sama bersyirkah sebagai pernyataan persetujuan adanya syirkah itu sehingga terdapat rasa saling percaya mempercayai.
B.    Syarat Syirkah
a.    Modal harus terang ukurannya baik timbangannya maupun hitungannya.
b.    Bila modal itu terdapat dua jenis, maka harus terdiri dari sesuatu yang dapat di campur sehingga tidak dapat dipisah-pisahkan lagi setelah dicampur.
c.    Orang yang bersyirkah itu harus terdiri dari orang yang sudah baliqh dan berakal.
d.    Peraturannya harus jelas, sehingga keuntungan dan kerugian sama-sama dirasakan.
Sedangkan mengenai barang modal disertakan dalam serikat, hendaklah berupa:
1)    Barang modal yang dapat dihargai (lazimnya selalu disebutkan dalam bentuk uang.
2)    Modal yang disertakan oleh masing-masing persero dijadikan satu, yaitu menjadi harta perseroan, dan tidak dipersoalkan lagi dari mana asal-usul modal itu.
C.    Macam-macam Syirkah
Secara garis besarnya dalam syariat islam, serikat itu dibedakan kepada dua bentuk, yaitu:
1.    Sirkah Amlak
Sirkah amlak yaitu beberapa orang memiliki secara bahu-membahu sesuatu barang, pemilikan secara bahu-membahu atas sesuatu barang tersebut bukan disebabkan adanya perjanjian diantara para pihak (tanpa ada akad/ perjanjian terlebih dahulu), misalnya pemilikan harta secara bahu-membahu yang disebabkan/ diperoleh karena pewarisan.
2.    Sirkah Uqud
Sirkah uqud terbentuk disebabkan para pihak memang sengaja melaksanakan perjanjian untuk bekerja bersama/ bergabung dalam suatu kepentingan harta (dalam bentuk penyertaan modal) dan didirikannya serikat tersebut bertujuan untuk memperoleh keuntungan dalam bentuk harta.
  
D.    Akad syirkah 
Secara khusus kesepakatan Syirkah diklasifikasikan menjadi empat jenis yaitu:
1)    Syirkah ‘Inan.
‘Inan yaitu serikat harta yang mana bentuknya yaitu serupa: “akad” dari dua orang atau lebih berserikat harta yang ditentukan oleh keduanya dengan maksud mendapat keuntungan, dan keuntungan itu untuk mereka yang berserikat, misalnya Perseroan terbatas (PT) CV, Firma, koperasi.
2)    Sirkah Mufawadhah
Sirkah Mufawadhah ini dapat diartikan sebagai serikat untuk melaksanakan negosiasi, dalam hal ini tentunya untuk melaksanakan suatu pekarjaan atau urusan, yang dalam istilah sehari-sehari sering digunakan istilah partner kerja atau group. Dalam serikat ini pada dasarnya bukan dalam bentuk permodalan, tapi lebih ditekankan kepada keahlian, misalnya Assosiasi-assosiasi atau group yang di bentuk oleh para penasihat hukum ibarat kantor pengacara dan penasihat hukum Muh. Iqbal, lubis, SH dan partner.
3)    Sirkah Wujuh
Sirkah Wujuh ini berbeda dengan serikat yang dikemukakan diatas. Dalam serikat ini yang dihimpun bukan modal dalam bentuk uang atau skill, akan tetapi dalam bentuk “tanggung Jawab” dan tidak ada sama sekali keahlian atau modal uang. Misalnya dua orang atau lebih membeli sesuatu tanpa permodalan yang ada hanyalah berpegang kepada nama baik mereka dalam dunia bisnis, karena prestasi atau profesionalisme kerjanya. contohnya dipersamakan dengan komisioner, keagenan, perantara.
4)    Sirkah abdan
Sirkah abdan yaitu bentuk kerjasama untuk melkukan sesuatu yang bersifat karya. Dengan mereka melaksanakan karya tersebut mereka mendapat upah dan mereka membaginya sesuai dengan kesepakatan yang telah mereka lakukan, dengan demikian dapat dikatakan serikat untuk melaksanakan pemborongan. misalnya tukang kayu, tukang batu, tukang besi berserikat untuk melaksanakan pekerjaan membangun gedung.
E.    Dasar hukum Syirkah
Dalil yang mendasari kesepakatan syirkah dapat dilihat dalam Al-Qur’an, Hadits dan Ijma. Dalam Al-Qur’an Tuhan berfirman dalam surah Shad ayat 24:
وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْخُلَطَاءِ لَيَبْغِي بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَقَلِيلٌ مَا هُمْ وَظَنَّ دَاوُدُ أَنَّمَا فَتَنَّاهُ فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهُ وَخَرَّ رَاكِعًا وَأَنَابَ (٢٤)
Sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan Amat sedikitlah mereka ini”. dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; Maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat.
Dalam hadits:
عَنِ النَّبِى صلى الله عليه وسلم قال: يقول الله تعا لى : أنا ثَالِثُ الشَّرِيْكَيْنِ مَا لَمْ أَحَدُهُمَا صَا حِبَهُ, فَإِذَا خَانَهُ خَرَجْتُ مِنْ بَيْنِهِمَا. (رواه أبوداودد)
dari Nabi SAW. Bersabda, Tuhan SWT. Berfirman, Aku yaitu pihak ketiga diantara dua orang yang berserikat selama salah satu dari keduanya tidak menghianati mitranya dan saat menghianati, maka saya keluar dari keduanya. (HR. Abu Daud).
F.    Hikmah syirkah
1.    meningkatkan kesejahteraan bersama, terutama para anggota syirkah,
2.    menjalin relasi silaturahim yang erat,
3.    menambah lapangan usaha atau kerja,
4.    menumbuhkan solidaritas antara sesama, dan
5.    mempererat tali persaudaraan.
Hidup dimuka bumi ini pasti selalu melaksanakan yang namanya acara ekonomi dalam kehidupan sehari-hari. Bertransaksi sana-sini untuk menjalankan kehidupan dan tanpa kita sadari pula kita melaksanakan yang namanya ‘Ariyah (pinjam-meminjam). Pinjam meminjam kita lakukan baik itu barang, uang ataupun lainnya. Terlebih dikala ini banyak kejadian pertikaian ataupun kerusuhan di masyarakat  dikarenakan pinjam meminjam. Dan tidak heran kalau hal ini menjadi duduk perkara setiap masyarakat dan membawanya ke meja hijau. Hal ini terjadi dikarenakan ketidak fahaman akan hak dan kewajiban terhadap yang dipinjamkan.

A.    Pengertian ‘ariyah
Pinjaman atau ‘ariyah menurut bahasa ialah pinjaman. Sedangkan menurut istilah, ‘ariyah ada beberapa pendapat, yaitu:
1.    Menurut Hanafiyah, ‘ariyah adalah:
“Memilikkan manfaat secara cuma-cuma.”
2.    Menurut Malikiyah, ‘ariyah adalah:
تمليك منفعة مؤ قتة لا بعو ض
 “Memilikkan manfaat dalam waktu tertentu dengan tanpa imbalan.”
3.    Menurut Syafi’iyah, ‘ariyah adalah:
ابا حة الا نتفا ع من شخص فيه اهلية التبر ع بما يحن الا نتفا ع به مع بقاء عينه ليرده على المتبرع
 “Kebolehan mengambil manfaat dari dari seseorang yang membebaskannya, apa yang mungkin dimanfaatkan, serta tetap zat barangnya biar dapat dikembalikan kepada pemiliknya.”
4.    Menurut Hanabilah, ‘ariyah ialah:
“Kebolehan memanfaatkan suatu zat barang tanpa imbalan dan peminjam atau yang lainnya.”
5.    Ibnu Rif’ah berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ‘ariyah adalah:
“Kebolehan mengambil manfaat suatu barang dengan halal serta tetap zatnya biar dapat dikembalikan.”
Dengan dikemukakannya definisi-definisi menurut para hebat fiqh diatas, kiranya dapat dipahami bahwa meskipun menggunakan redaksi yang berbeda, namun bahan permasalahannya dari definisi wacana ‘ariyah tersebut sama. Jadi, yang dimaksud dengan ‘ariyah ialah menunjukkan manfaat suatu barang dari seseorang kepada orang lain secara cuma-cuma (gratis). Bila digantikan dengan sesuatu atau ada imbalannya, hal itu tidak dapat disebut ‘ariyah.
B.    Dasar Hukum ‘ariyah
Menurut Sayyid Sabiq, tolong menolong [ariyah] ialah sunnah.  Sedangkan menurut al-Ruyani,sebagaimana dikitip oleh Taqiy al-Din, bahwa ariyah hukumnya wajib ketika awal islam. Adapun landasan hukumnya dari nash alquran ialah:
وتعا ونوا على البر والتقوى ولا تعا ونوا على الا ثم والعدوان ( الما ئدة :٢ )
“Dan tolong menolonglah kau untuk berbuat kebaikan dan taqwa dan janganlah kau tolong menolong untuk berbuat dosa dan permusuhan.”  [Al-Maidah:2]
ان الله يأ مر كم ان تؤ د و االا ما نا ت ا لى اهلها (النساء :٥٨)
Asbabun Nuzul:
Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa setelah Fathul Makkah, Rasulullah SAW memanggil Utsman bin Talhah untuk meminta kunci ka’bah. Ketika Utsman datang menghadap Rasul untuk menyerahkan kunci itu, berdirilah Al Abbas seraya berkata : “Ya Rasulullah, demi Allah, serahkan kunci itu kepadaku. Saya akan merangkap jabatan itu dengan jabatan urusan pengairan”. Utsman menarik kembali tangannya. Maka bersabdalah Rasulullah: “Berikanlah kunci itu kepadaku, wahai Utsman !” Utsman berkata: “Inilah ia amanat dari Allah”. Maka berdirilah Rasulullah membuka ka’bah dan kemudian keluar untuk thawaf di baitullah. Lalu turunlah Jibril membawa perintah biar kunci itu diserahkan kepada Utsman. Rasulullah melaksanakan perintah itu sambil membaca surat An Nisa’ ayat 58.
Sebagaimana halnya bidang-bidang lain, selain al-quran landasan hukum yang kedua ialah Al-Hadis, dalam landasan ini, ariyah dinyatakan sebagai berikut:
ادالآ ما نة الى من ائتمنك ولا تخن من خانك ( رواه أبو داود )
“Sampaikanlah amanat orang yang menunjukkan amanat kepadamu dan janganlah kau khianat sekalipun ia khianat kepadamu” [Dikeluarkan oleh Abu Dawud].
من أخذ اموا ل الناس يريد أداء ها ادى الله عنه ومن أخذ يريد اتلا فها اتلفه الله
“Siapa yang meminjam harta insan dengan kehendak membayarnya maka Tuhan akan membayarkannya, barang siapa yang meminjam hendak melenyapkannya, maka Tuhan akan melenyapkan hartanya” [Riwayat Buhari].
C.    Syarat dan Rukun ‘ariyah
Syarat-syarat ‘ariyah:
1.    Muir arif sehat
Dengan demikian, orang asing dan anak kecil yang tidak arif tidak dapat meminjamkan barang.
2.    Pemegang barang oleh peminjam
Ariyah ialah transaksi dalam berbuat kebaikan, yang dianggap sah memegang barang ialah peminjam, ibarat halnya dalam hibah.
3.    Barang (musta’ar)
Dapat dimanfaatkan tanpa merusak zatnya, bila musta’ar tidak dapat dimanfaatkan, janji tidak sah.
Rukun ‘ariyah yaitu:
1.    Mu’ir
Mu’ir ialah pihak yang meminjamkan atau mengizinkan penggunaan manfaat barang pinjaman. Syarat mu’ir yaitu:
a.    Ahli at-tabarru. Yaitu perizinan pemanfaatan barang
b.    Berstatus sebagai pemilik manfaat barang, meskipun tidak berstatus sebagai pemilik barang. Sebab obyek janji ‘ariyah ialah manfaat, bukan barang
c.    Mukhtar. Yakni janji ‘ariyah dilakukan atas dasar inisiatif sendiri, bukan atas dasar tekanan atau paksaan.
2.    Musta’ir
Musta’ir ialah pihak yang meminjamkan atau mendapat izin penggunaan manfaat barang. Syarat musta’ir yaitu:
a.    Sah mendapatkan hak melalui janji tabarru’.
b.    Tertentu (mua’yan).
3.    Musta’ar
Musta’ar ialah barang yang dipinjamkan, atau barang yang manfaatnya diizinkan untuk dipergunakan musta’ir. Syarat musta’ar yaitu:
a.    Memiliki potensi mampu dimanfaatkan
b.    Manfaatnya merupakan milik pihak mu’ir
c.    Pemanfaatannya legal secara agama
d.    Manfaat yang memiliki nilai ekonomis (maqshudah)
e.    Pemanfaatannya tidak berkonsekuensi mengurangi fisik barang.
4.    Shighah
Shighah dalam janji ‘ariyah ialah bahasa interaksi meliputi ijab dan qabul yang menunjukkan perizinan penggunaan manfaat barang.
D.    Macam-macam ‘Ariyah
Ditinjau dari kewenangannya, janji derma meminjam (‘ariyah) pada umumnya dapat dibedakan menjadi dua macam :
1.    ‘Ariyah Muqayyadah
Yaitu bentuk pinjam meminjam barang yang bersifat terikat dengan batasan tertentu. Misalnya peminjaman barang yang dibatasi pada daerah dan jangka waktu tertentu. Dengan demikian, bila pemilik barang mensyaratkan pembatasan tersebut, berarti tidak ada pilihan lain bagi pihak peminjam kecuali mentaatinya. ‘ariyah ini biasanya berlaku pada objek yang berharta, sehingga untuk mengadakan pinjam-meminjam memerlukan adanya syarat tertentu. Pembatasan mampu tidak berlaku apabila menjadikan musta’ir tidak dapat mengambil manfaat karena adanya syarat keterbatasan tersebut. Dengan demikian dibolehkan untuk melanggar batasan tersebut apabila terdapat kesulitan untuk memanfaatkannya. Jika ada perbedaan pendapat antara mu’ir dan musta’ir wacana lamanya waktu meminjam, berat/nilai barang, daerah dan jenis barang maka pendapat yang harus dimenangkan ialah pendapat mu’ir karena dialah pemberi izin untuk mengambil manfaat barang derma tersebut sesuai dengan keinginannya.
2.    ‘Ariyah Mutlaqah
Yaitu bentuk pinjam meminjam barang yang bersifat tidak dibatasi. Melalui janji ‘ariyah ini, peminjam diberi kebebasan untuk memanfaatkan barang pinjaman, meskipun tanpa ada pembatasan tertentu dari pemiliknya. Biasanya ketika ada pihak yang membutuhkan pinjaman, pemilik barang sama sekali tidak menunjukkan syarat tertentu terkait obyek yang akan dipinjamkan. Contohnya seorang meminjamkan kendaraan, namun dalam janji tidak disebutkan hal-hal yang berkaitan dengan penggunaan kendaraan tersebut, misalnya waktu dan daerah mengendarainya. Namun demikian harus diadaptasi dengan kebiasaan yang berlaku di masyarakat. Tidak boleh menggunakan kendaraan tersebut siang malam tanpa henti. Jika penggunaannya tidak sesuai dengan kebiasaan dan barang derma rusak maka mu’ir harus bertanggung jawab.
E.    Konsekuensi Hukum Akad ‘ariyah
Setelah janji ‘ariyah terpenuhi syarat dan rukunnya, selanjutnya akan menetapkan beberapa konsekuensi hukum, diantaranya sebagai berikut:
1.    Status Akad
Status hukum janji ‘ariyah yaitu jaiz dari kedua belah pihak. Artinya janji ‘ariyah bersifat tidak mengikat, sehingga baik mu’ir atau musta’ir memiliki hak untuk membatalkan janji kapan saja secara sepihak. Sebab janji ‘ariyah merupakan bentuk perizinan akomodasi secara gratis dari pihak mu’ir dan pemanfaatan akomodasi dari pihak musta’ir, sehingga tidak maslahat apabila janji dibangun atas prinsip yang mengikat.
2.    Hak Penggunaan Musta’ir
Batasan hak atau kewenangan musta’ir dalam penggunaan manfaat barang pinjaman, diadaptasi dengan perizinan dari pihak mu’ir, alasannya ialah mu’ir ialah pemilik manfaat yangmemiliki otoritas membatasi penggunaan miliknya. Sedangkan bila perizinan bersifat umum, maka batasan penggunaan musta’ir dikembalikan pada kebiasaan umum.
3.    Hak Memanfaatkan Barang Pinjaman (Musta’ar)
Jumhur ulama selain Hanafiah berpendapat bahwa musta’ar dapat mengambil manfaat barang sesuai dengan izin mu’ir (orang yang memberi pinjaman). Adapun ulama Hanafiah berpendapat bahwa kewenangan yang dimiliki oleh musta’ar bergantung pada jenis pinjaman, apakah mu’ir meminjamkannya secara terikat (muqayyad) atau mutlak.
a.    ‘Ariyah Mutlak
‘Ariyah mutlak, yaitu pinjam-meminjam barang yang dalam akadnya (transaksi) tidak dijelaskan persyaratan apapun, ibarat apakah pemanfaatannya hanya untuk peminjam saja atau dibolehkan orang lain, atau tidak dijelaskan cara penggunaannya. Sebaliknya, bila penggunaannya tidak sesuai kebiasaan dan barang derma rusak, peminjam harus bertanggung jawab.
b.    ‘Ariyah Muqayyad
Ariyah muqayyad ialah meminjamkan suatu barang yang dibatasi dari segi waktu dan kemanfatannya, baik disyaratkan pada keduanya maupun salah satunya. Hukumnya, peminjam harus sedapat mungkin untuk menjaga batasan tersebut. Hal ini karena asal dari batas ialah menaati batasan, kecuali ada kesulitan yang menjadikan peminjam tidak dapat mengambil manfaat barang tersebut. Dengan demikian, dibolehkan melanggar batasan tersebut apabila kesulitan untuk memanfaatkannya.
4.    Berakhirnya Akad ‘Ariyah
‘Ariyah berakhir disebabkan oleh sebagai berikut:
a.    Salah satu pihak menjadi tidak lagi cakap hukum melaksanakan janji ‘ariyah.
b.    Diketahui bahwa salah satu pihak atau kedua belah pihak tidak tasharruf.
c.    Adanya penipuan terhadap keadaan barang.
d.    Barang dikendalikan oleh yang meminjam.
5.    Biaya Perawatan dan Pengembalian Barang Pinjaman
Apabila barang derma membutuhkan biaya perawatan atas nafkah ibarat rumah, motor, mobil, dll., maka tanggung jawab biaya dibebankan kepada pemilik barang pinjaman, baik mu’ir sendiri atau pemilik barang yang menyewakan kepada mu’ir. Sebab, biaya tersebut secara hukum menjadi tanggung jawab pemilik barang, dan tidak boleh dibebankan kepada musta’ir, alasannya ialah janji ‘ariyah ialah janji yang bersifat non-komersial (tabarru).
Mengenai keimanan antara keimanan kepada Tuhan dan pengalaman ajaranNya dengan kesehatan mental. Dalam Al qur’an banyak ayat yang menunjukkan bahwa untuk mencapai insan kamil harus benar-benar dapat sinergis antara agama dan kehidupan sebagaimana hal dibawah ini :

1.    Surat at tin mengisyaratkan bahwa insan akan mengalami kehidupan yang hina atau jatuh martabatnya termasuk juga psikologis yang tidak nyaman (mentalnya tidak sehat)  kecuali orang-orang yang beriman dan berzakat shaleh (berbuat kebajikan)
2.    Senada dengan surat at tin yaitu surat al ashr yaitu bahwa semua insan itu merugi (celaka hidupnya), tidak tentram atau perasaan bingung dan gelisah kecuali orang-orang yang beriman, berzakat sholeh dan saling mewasiati dengan kebenaran dan kesabaran
3.    Surat ar ra’du ayat 28 yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan berdzikir kepada Yang Mahakuasa lah hati akan menjadi tentram (bahagia)
4.    Surat al baqoroh ayat 112 yaitu tidaklah demikian barang siapa yang menyerahkan diri kepada Yang Mahakuasa sedang ia berbuat kebajikan maka baginya ialah pahala pada sisi TuhanNya dan tiidak ada kekuatiran atau kecemasan dan tidak pula kesedihan bagi mereka
5.    Surat al ahqof ayat 13 yaitu bergotong-royong orang yang menyatakan Tuhan kami ialah Allah, kemudian mereka tetap istiqomah (teguh pendirian keimanan kepada Yang Mahakuasa dan menjalankan syriatNya) maka tidak ada kekhawatiran bagi mereka dan tidak pula berduka cita
6.    Surat al isra ayat 82 yaitu dan kami menurunkan dari al qur’an sebagai obat (penawar) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.
Konsep muslim ideal menurut Maslow dan Mittehnann ialah sebagai berikut :
1.    Memiliki perasaan aman (sense of security) yang tepat, bisa mengadakan kontak sosial dalam keluarga bidang kerja dan masyarakat
2.    Penilaian diri (self evaluaton) dan insight rasional. Ada rasa harga diri yang cukup memiliki perasaan sehat secara mental tanpa ada rasa berdosa. Mempunyai kemampuan mengetahui tingkah laku insan lain yang tidak sosial dan tidak human sebagai fenomena masyarakat
3.    Mempunyai spontanitas dan emosional yang tepat. Mampu menciptakan kekerabatan berpengaruh dan bersahabat serta lama. Misalnya persahabatan dan kekerabatan cinta, dll
4.    Mempunyai kontak dengan realitas secara efisien yaitu kontak dengan dunia fisik tanpa ada fantasi dan angan-angan yang berlebihan. Kontak dengan dunia sosial, berpandangan realitas dan cukup luas wacana dunia manusia
5.    Memiliki dorongan dan nafsu jasmani yang sehat serta bisa untuk memenuhi dan memuaskan
6.    Mempunyai pengetahuan diri yang cukup antara lain dapat menghayati motif-motif hidup dalam kesadaran tahu akan nafsu dan hasrat, impian dan tujuan hidup yang realistis dan dapat membatasi ambisi dalam batas normal
7.    Mempunyai tujuan hidup yang adekuat artinya tujuan dapat dicapai dengan kemampuan sendiri sifatnya realistis
8.    Memiliki kemampuan untuk mencar ilmu dari pengalaman hidupnya
9.    Ada kesanggupan untuk memuaskan tuntutan dan kebutuhan kelompoknya
10.    Mempunyai sikap emansipasi yang seht terhadap kelompok dan kebudayaannya. Dapat membedakan baik dan buruk
11.    Memiliki integrasi dalam kepribadiannya
Menurut thantowy, tercapainya suatu kelebihan hidup insan apabila tidak menunjukkan penyimpangan dari sopan santun dan tidak pula menunjukkan penyimpangan aqidah atau iman. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pentingnya membangun, membina, menerapkan pendidikan agama terhadap anak semenjak dini. Karena nilai-nilai agama yang terinteralisasi atau mempribadi semenjak kecil akan menjadi benteng sopan santun yang kokoh dan bisa mengontrol tingkah laku dan menjalin kehidupan serta menjadi obat anti penyakit gangguan jiwa. Agar penanaman kaidah agama tersebut mudah diamalkan oleh anak maka cara yang paling ampuh untuk ditempuhnya orang tua, guru dll yaitu dengan menunjukkan pola tauladan yang baik. Orangtua dan guru mengemban misi untuk mengarahkan huruf anak melalui proses pendidikan dan pengajaran. Melalui proses pendidikan itu seorang guru akan menanamkan rasa cinta dan ketertarikan seorang anak pada ilmu pengetahuan, sebab ilmu pengetahuan pada hakikatnya merupakan simbol kemuliaan tertinggi pada setiap orang.  Tidak seorang pun yang tidak ingin menikmati ketenangan dan kebahagiaan hidup. Dan semua orang akan berusaha untuk mencarinya walaupun tidak semua bisa untuk dicapai sesuai dengan yang diinginkannya.