Shalat  tahajud ialah shalat yang jumlah batasan rakaatnya tidak ada kepastian. Artinya, seseorang boleh mengerjakan dua rakaat, empat rakaat, delapan rakaat, sebelas rakaat, bahkan menurut sebagian pendapat ada yang menyebutkan boleh menjalankan shalat tahajud lebih dari sebelas rakaat. Namun, ada yang berpendapat tidak boleh melebihi sebelas rakaat, baik itu dilaksanakan pada bulan Ramadhan maupun di luar bulan Ramadhan. 

Sebuah riwayat menyebutkan bahwa Abu Salamah bin Abdurrahman bertanya kepada Aisyah r.a., “Bagaimana shalat Rasulullah SAW. pada bulan Ramadhan?” Aisyah menjawab, “Beliau tidak biasa menambah baik pada bulan Ramadhan atau bulan lainnya lebih dari sebelas rakaat. Beliau shalat empat rakaat. Kamu jangan bertanya wacana baik dan panjangnya. Lalu ia shalat empat rakaat, dan jangan bertanya baik dan panjangnya. Lalu ia shalat tiga rakaat. Kemudian saya bertanya, ‘Rasulullah, apakah engkau tidur sebelum mengganjilkan?’ Beliau menjawab, ‘Aisyah, kedua mataku tidur, tetapi kalbuku tidak’.” (HR. Bukhari).
Aisyah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW. melaksanakan shalat malam (tahajud) dengan empat cara berikut.
=>>> Cara pertama
Rasulullah SAW. melaksanakan shalat malam sebanyak sebelas rakaat. Delapan rakaat pertama tanpa duduk (tasyahud). Pada rakaat kedelapan, ia duduk sambil berdzikir dan berdoa kepada Allah, lalu bangun tanpa membaca salam terlebih dahulu. Kemudian, pada rakaat kesembilan, ia duduk, membaca tasyahud, dan membaca salam. Setelah itu, ia shalat dua rakaat lagi.
=>>> Cara kedua
Rasulullah SAW. memulai shalat malam dengan dua rakaat ringan. Aisyah r.a. meriwayatkan, “Apabila bangun malam, Rasulullah SAW. memulai shalat malamnya dengan dua rakaat yang ringan.” Seperti disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a., Rasulullah SAW. memerintahkan, “Jika seseorang dari kalian bangun pada malam hari, hendaklah dia memulai shalat malamnya dengan dua rakaat yang ringan” (HR. Muslim). Kadang-kadang ia bangun pada tengah malam, atau beberapa dikala sebelum atau sesudahnya. Lalu, ia menyempurnakan wiridnya, yaitu shalat tahajud sebelas rakaat. Beliau membaca salam pada setiap dua rakaat dan shalat witir satu rakaat. 
=>>> Cara ketiga
Rasulullah melaksanakan shalat malam sebanyak delapan rakaat dan membaca salam pada setiap dau rakaat, lalu shalat witir lima rakaat berturut-turut dan duduk (tasyahud) pada rakaat terakhir. Hal ini disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. 
=>>> Cara keempat
Rasulullah shalat dua rakaat – dua rakaat, lalu shalat witir tiga rakaat sekaligus dengan satu kali salam. Hal ini disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad.
Dari semua cara di atas, yang paling banyak dilakukan oleh Rasulullah  dalam shalat malamnya ialah shalat sambil berdiri sebagaimana yang kita kenal. Namun, kadang ia juga shalat sambil duduk sehingga ruku’ dilakkukan dalam posisi duduk. Dalam shalat malamnya, Rasulullah juga kadang membaca Al-Qur’an dalam posisi duduk, lalu pada bacaan beberapa ayat terakhir, ia berdiri lalu ruku’. Semua ini diriwayatkan dalam hadits-hadits shahih.
Abdullah bin Qais berkata, “Saya pernah menemui Aisyah r.a. Dia berkata, ‘Wahai Abdullah, jangan tinggalkan shalat malam alasannya ialah Nabi SAW. tidak pernah meninggalkannya. Bahkan, jikalau sakit atau merasa agak malas, ia shalat sambil duduk.” (HR. Abu Dawud).
=>>> Shalat witir Rasulullah
Ibn Mas’ud Al-Anshari r.a. meriwayatkan bahwa Nabi SAW. shalat witir pada awal, pertengahan, dan simpulan malam” (HR. Ahmad dan At-Thabrani).
Aisyah r.a. berkata, “Rasulullah SAW. shalat witir setiap malam. Beliau shalat witir pada awal, pertengahan, dan simpulan malam. Beliau selesai shalat witir pada simpulan malam.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Abu Qatadah berkata, “Nabi SAW. bertanya kepada Abu Bakar, ‘Kapan kau shalat witir?’ Umar menjawab, ‘Saya tidur dulu lalu shalat witir.’ Kemudian, ia berkata kepada Abu Bakar, ‘Kamu telah mengambil sesuatu yang teguh.’ Sementara itu, kepada Umar, ia berkata, ‘Kamu telah mengambil kekuatan’” (HR. Ibn Khuzaimah).
An-Nawawi, dalam Syarh Muslim, berkata, “Hal ini merupakan dalil bahwa simpulan malam lebih utama bagi orang yang yakin mampu bangun pada simpulan malam. Sementara itu, bagi orang yang tidak yakin mampu bangun pada simpulan malam, mengerjakan witir lebih awal ialah lebih utama. Inilah pendapat yang tepat. Hadits-hadits shahih yang lain juga memperlihatkan perincian ibarat ini.”
Dalam shalat malamnya, Rasulullah SAW. kadang membaca surat yang pendek. Kadang, ia membaca Al-Qur’an dengan bunyi agak keras, dan kadang dengan tanpa bersuara. Beliau juga kadang berdiri cukup lama.