A. Pengertian Perkawinan
Perkawinan atau ijab kabul dalam literature fiqh berbahasa arab disebut dengan dua kata, yaitu nikah dan zawaj. Kedua kata ini yang terpakai dalam kehidupan sehari-hari orang Arab dan banyak terdapat dalam Alqur’an dan hadist Nabi. Kata na-ka-ha banyak terdapat dalam Alqur’an dengan arti kawin. Dalam pandangan islam disamping perkawinan itu sebagai perbuatan ibadah, ia juga merupakan sunnah Tuhan dan sunnah Rasul. Sunnah Tuhan berarti menurut qadrat dan iradat Tuhan dalam penciptaan ala mini, sedangkan sunnah rasul untuk dirinya sendiri dan untuk umatnya.

Bimbingan konseling perkawinan ialah proses pemberian perlindungan terhadap individu semoga dalam menjalankan perkawinan dan kehidupan berumah tangganya mampu selaras dengan ketentuan dan petunjuk Tuhan sehingga dapat mencapai kebahagian di dunia dan di darul abadi (Musnamar, 1992: 70).

Perkawinan menurut UU perkawinan No. 1 tahun 1974 yang dimaksud dalam perkawinan ialah ikatan batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Dengan Undang-undang tersebut akan menjadi contoh dalam perkawinan di Indonesia. Dalam Undang-undang disebutkan bahwa perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri. Ikatan lahir ialah ikatan yang nampak (formal). Sedangkan ikatan batin yaitu ikatan yang tidak tampak dan merupaka ikatan psikologis. Ada beberapa persyaratan untuk melakukan perkawinan, persyaratan ini ada yang bersifat umum dan ada yang bersifat khusus, yang bersifat umum misalnya: perkawinan hanya diizinkan kalau pihak pria sudah mencapai usia minimal 19 tahun dan wanita minimal 16 tahun. apabila terjadi penyimpangan dalam ketentuan tersebut misalnya batas usia minim belum memenuhi, maka perkawinan dapat dilaksanakan tetapi harus ada dispensasi dimana keluarga harus turut campur dalam arti untuk pembinaan kedepannya. Sedangkan yang berkaitan dengan persyaratan yang sifatnya khusus ialah bersifat langsung dan subyektif, misalnya seorang wanita mengidolakan seorang pria yang tinggi tubuh 160cm, kulit putih, berpenampilan menarik, humoris, dll, ialah sah-sah saja karena itu sifatnya pribadi.
Perez (1975: 25), mengemukakan pengertian konseling keluarga (family therapy) bahwa konseling keluarga ialah suatu proses interaktif untuk membantu keluarga dalam mencapai keseimbangan dimana setiap anggota keluarga mencicipi kebahagiaan. Untuk mencapai hal tersebut berikut ini dikemukakan asumsi-asumsi dasar yang menunjang pencapaian tujuan.
1. Sakitnya seorang keluarga (gangguan psikis) bukanlah  disebabkan oleh dirinya sendiri akan tetapi oleh karena interaksi dengan anggota keluarga lainnya yang hidup dalam sisitem yang terganggu.
2. Walaupun satu atau lenih anggota keluarga berfungsi baik baik atau pembiasaan diri baik, akan tetapi kalau ada sebagian anggota yang lain mengalami malajusted maka yang sehat itu akan terpengaruh menjadi malajusted pula.
3. Sistem keluarga menampakkan dorongan untuk mencapai keseimbangan emosional yang diungkapkan dalam konseling.
4. Hubungan antara kedua orang bau tanah mensugesti terhadap hubunagn antara anggota keluarga.
Definisi yang dikemukakan oleh Perez diatas memang dapat diterima, akan tetapi dalam pelaksanaannya kita tidak sepenuhnya menangani kasus keluarga secara murni menurut konsep Perez tersebut. Kadang-kadang dilakukan konseling individual (kasus) yang mengalami persoalan kemudian kalau telah terjadi perubahan perilaku yang positif, maka individu ini akan mensugesti perilaku anggota keluarga lainnya. Disini kita mengemukakan definisi konseling keluarga yaitu usaha membantu individu anggota keluarga untuk mengaktualisasikan potensiya atau mengantisipasi persoalan yang dialaminya, melalui sistem kehidupan keluarga, dan mengusahakan semoga terjadi perubahan perilaku yang positif pada diri individu yang akan memebri dampak positif pula terhadap anggota keluarga lainnya.

B. Latar Belakang Perlunya Bimbingan Konseling Perkawinan
Perkawinan merupakan suatu aktifitas yang pada dasarnya tidak berbeda dengan aktifitas-aktifitas yang lain, selain aktifitas itu mempunyai tujuan tertentu, maka aktifitas juga di dorong oleh sesuatu yang menyebabakan terjadinya aktifitas tersebut, demikian dalam perkawinan, selain perkawinan itu mempunyai tujuan tertentu menyerupai telah diuraikan di muka, perkawinan juga mempunyai pendorong tertentu sehingga seseorang melangkah ke jenjang perkawinan.
Berkaitan dengan hal tersebut maka timbul pertanyaan apakah yang mendorong ataupun yang melatar belakangi terjadinya perkawinan itu. insan merupakan makhluk hidup yang lebih tepat bila di bandingkan dengan makhluk-makhluk hidup yang lain, khususnya dengan hewan. dengan kelebihan yang ada pada manusia, maka sudah sewajarnya bahwa insan harusnya dapat menggunakan kelebihan itu dengan baik.
konseling perkawinan yaitu pemberian perlindungan kepada individu (remaja dan remaja muda) yang akan memasuki jenjang pernikahan. Dalam konseling ini diberikan layanan berita atau diskusi ihwal hukum pernikahan, hak dan kewajiban suami istri, dan pengolaaan keluarga.