Perkembangan dakwah pada ketika ini
PERKEMBANGAN DAKWAH
A. Perkembangan dakwah pada ketika ini
Sedangkan ketika ini Islam telah berkembang pesat dari zajirah arab hingga penjuru dunia hingga ketika ini kita rasakan bersama betapa Islam sangat baik. bahkan aneka macam para pendai yang menyerukan Islam semoga insan dapat beriman kepada Tuhan secara kaffah. dan menyeru insan hingga pelosok dunia.

Kalau kita telaah makan da’wah sangatlah luas beda pada zaman rasulullah dan para sahabat. Seperti ketika ini aneka macam para dai mendakwahkan Islam entah dengan lisan, tulisan, atupun seni menyerupai nyanyian, puisi dan lain sebagainya. Itu semua merupakan bentuk dakwah. Kalau kita lihat pada zaman rasul berda’wah hanya melalui mulut dengan metode ceramah

“Serulah insan kepada jalan tuhanmudengan nasihat dan pelajaran yang baik dan bantalah mereka dengan cara yang baik, sesunguhnya Tuhanmu dialah yang mengetahui wacana siapa yang tersesat di jalanNya dan dialah lebih mngetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (An-Nahl : 125)

Dari ayat di atas menunjukkan bahwa metode dakwah itu meliputi tiga cakupan, yaitu:
-Al-Hikmah

  • Pengertian Bi-al-h-Hikmah. Kata “Hikmah” dalam Al-quran di sebutkan sebanyak 20 kali baik dalam bentuk nakirah maupun ma’ifat. Bentuk masdarnya ialah “hukman” yang di artikan secara makna aslinya ialah mencegah. Jika di kaitkan dengan hukum berarti mencegah dari kedzaliman. Dan jikalau di kaitkan dengan dakwah maka berarti menghindari hal-hal yang kurang relevan dalam melaksanakan peran dakwah. Menurut Al-Ashma’I asal mula didirikan hukmah (pemerintahan) ialah untuk mencegah insan dari perbuatan dzalim. Maka digunakan istilah hikmatul Lijam, karena lijam (cambuk atau kekang kuda) itu di gunakan untuk mencegah tindakan hewan.
  • Hikmah dalam dakwah. Dalam dunia dakwah ialah nasihat ialah penentu sukses tidaknya dakwah. Dalam menghadapi mad’u dengan tepat. Oleh karena itu, para da’i di tuntut untuk bisa mengerti dan memahami sekaligus memanfaatkan latar belakangnya, sehingga ide-ide yang di terima dirasakan sebagai sesuatu yang menyentuh dan menyejukan kalbunya.Ada saatnya diamnya da’i menjadi efektif dan berbicara membawa bencana, tetapi di ketika lain terjadi sebaliknya, diamnya dai malah mendatangkan ancaman besar dan berbicara mendatangkan hasil yang gemilang.
-Al-Mauidzah Hasamah

Terminologi mau’idzah hasanah dalam prespektif dakwah sangat populer, bahkan dalam acara-acara seremonial keagamaan (baca dakwah atau tabligh) menyerupai Maulid Nabi dan Isra’ Mi’raj, istilah mau’izhah hasanah mendapat porsi khusus dengan sebutan “acara yang ditunggu-tunggu yang merupakan inti program dan biasanya menjadi salah satu target keberhasilan sebuah acara. Namun demikian semoga tidak menjadi kesalah pahaman, maka akan dijelaskan pengertian mau’izhah hasanah.
Secara bahasa mau’izhah hasanah terdiri dari dua kata, mau’izhah dan hasanah atau mau’izhah berasal dari kata wa’adza-ya ‘dzu-wa’dzan-‘idzaran yang berarti; nasihat, bimbingan, pendidikan dan peringatan, sementara hasanah merupakan kebalikan dari sayy’iah yang artinya kebaikan lawannya kejelekan.

Adapun pengertian secara istilah, ada beberapa pendapat antara lain;

1. Menurut Imam Abdullah bin Ahmad an-Nasafi yang dikutif oleh H. Hasanuddin ialah sebagai berikut:
والموعظة الحسنةوهي التي لايخفي عليهم إنك تنا صحهم بها وتقصد ماينفعهم فيها أ وبا القرأن.
“al-Mai’izhah al-Hasanah “adalah (perkataan-perkataan) yang tidak tersembunyi bagi mereka, bahwa engkau menunjukkan nasihat dan menghendaki manfaat kepada mereka atau dengan al-Qur’an.”
2. Menurut Abd. Hamid al-Bilali al-Mau’izhah al-Hasanah merupakan salah satu manhaj (model) dalam dakwah untuk mengajak ke jalan Tuhan dengan menunjukkan nasihat atau membimbing dengan lemah lembut semoga mereka berbuat baik.
Mau’izhah hasanah dapatlah diartikan sebagai ungkapan yang mengandung unsur bimbingan, pendidikan, pengajaran, kisah-kisah, isu gembira, peringatan, pesan-pesan konkret (wasiat) yang bisa dijadikan pedoman dalam kehidupan semoga mendapatkan kesalamatan dunia dan akhirat.

Dari beberapa definisi di atas, mau’izhah hasanah tersebut bisa diklasifikasikan dalam beberapa bentuk:
  • Nasihat atau patuh
  • Bimbingan, pengajaran (pendidikan)
  • Kisah-kisah
  • Kabar besar hati dan peringatan (al-Basyir dan al-Nadzir)
  • Wasiat (pesan-pesan positif)
Menurut K.H. Mahfudz kata tersebut mengandung arti:

1. Didengar orang, lebih banyak lebih baik bunyi panggilannya.
2. Diturut orang, lebih banyak lebih baik tujuannya sehingga menjadi lebih besar kuantitas insan yang kembali ke jalan Tuhannya yaitu jalan Tuhan Swt.
Sedangkan menurut pendapat Imam Abdullah bin Ahmad an-Nasafi, kata tersebut mengandung arti:
والموعظة الحسنةوهي التي لايخفي عليهم إنك تنا صحهم بها وتقصد ماينفعهم فيها أ وبا القرأن.
“Al-mauidzatul hasanah yaitu perkataan yang tidak tersembunyibagi mereka, bahwa engkau menunjukkan nasihat dan menghendaki manfaat kepada mereka atau dengan al-Qur’an”.
Jadi, kalau kita telusuri kesimpulan dari mau’idzatul hasanah, akan mengandung arti kata-kata yang masuk ke dalam kalbu dengan penuh kasih sayang dan ke dalam perasaan dan penuh kelembutan; tidak membongkar atau membeberkan kesalahan orang lain alasannya ialah kelemahan-kelembutan dalam menasihati seringkali dapat meluluhkan hati yang keras dan menjinakan kalbu yang liar, ia lebih mudah melahirkan kebaikan daripada larangan dan ancaman.

– Al-Mujadalah Bi-al-Lati Hiya Ahsan


Dari segi etimologi (bahasa) lafadzh Mujadalah terambil dari kata “jadala” yang bermakna memintal, melilit. Apabila ditambahkan alif pada abjad jim yang mengikuti wazan Faala, “jaa dala” dapat bermakna berdebat, dan “mujaadalah” perdebatan.

Kata “jadala” dapatr bermakna menarik tali dan mengikatnya guna menguatkan sesuatu. Orang yang berdebat bagaikan manarik dengan ucapan untuk meyakinkan lawannya yang menguatkan pendapatnya melalui argumentasi yang disampaikan.

Menurut Ali al-Jarsiyah, dalam kitabnya Adab al-Hiwar waalmunadzarah, mengartikan bahwa “al-Jidal” secara bahawa dapat bermakna pula “Datang untuk memilih kebenaran” dan apabila berbentuk isim “al-Jadlu” maka berarti “pertentangan atau perseteruan yang tajam” bahkan al-Jarsiyah menambahkan bahwa, lafadzh ‘al-Jadlu” musytaq dari lafadzh “al-Qotlu” yang berarti sama-sama terjadi pertentangan menyerupai terjadinya perseteruan antara dua orang yang saling bertentangan sehingga saling melawan/menyerang dan salah satu menjadi kalah.
Dari segi istilah (terminologi) terdapat beberapa pengertian al-Mujadalah (al-Hiwar) dari segi istilah. Al-Mujadalah (al-Hiwar) berarti upaya tukar pendapat yang dilakukan oleh dua pihak secara sinergis, tanpa adanya suasana yang mengharuskan permusuhan diantara keduanya. Sedangkan menurut Dr. Syyaid Muhammad Thantawi ialah suatu upaya yang bertujuan untuk mengalahkan pendapat lawan dengan cara menyajikan argumentasi dan bukti yang kuat.

Menurut tafsir an-Nasafi, kata ini mengandung arti
وجادلهم بالتي هي أحسنباالطريقة التي هي أحسن طرق المجادلة من الرفق والين من غير فظاظة أوبما يوقظ القلوب ويعظ النفوس ويحلوالعقول، وهو ردعلي من بأ بي المناظرة في الدين.
“Berbantahan dengan baik yaitu dengan jalan yang sebaik-baiknya dalam bermujadalah, antara lain dengan perkataan yang lunak, lemah lembut, tidak dengan ucapan yang bergairah atau dengan menggunakan sesuatu (perkataan) yang bisa menyadarkan hati, membangunkan jiwa dan menerangi logika pikiran, ini merupakan penolakan bagi orang yang enggan melaksanakan perdebatan dalam agama”.

Dari pengertian di atas dapatlah diambil kesimpulan bahwa, al-Mujadalah merupakan tukar pendapat yang dilakukan oleh dua pihak secara sinergis, yang tidak melahirkan permusuhan dengan tujuan semoga lawan mendapatkan pendapat yang diajukan dengan menunjukkan argumentasi dan bukti yang kuat.