MAKALAH

PARADIGMA DAKWAH PLURAL
DAN MULTI KULTURAL
Oleh:
SONIA SWASTIKA (153133039)
PENGEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGRI MATARAM (IAIN)
2013/2014
KATA PENGANTAR
Bismillahirahmanirahim
Puji syuku kehadirat allah yang maha esa, yang telah memperlihatkan nikmat kesempatan bagi kami (penulis) sehingga kami bisa menyelesaikan makalah yang diberikan kepada kami oleh dosen mata kuliah yang bersangkutan, sehingga kami bisa menyeleseaikan makalah ini tepat pada wahtunya.
Solawat dan salam semoga selalu terlapaskan kepada junjungan kita rasulullah SAW, yang telah menuntun para leluhur kita, juga sehingga kita bisa mengecam kenikmatan melelui agama yang di sebarkannya (islam).
Kami juga mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun dari saudara (pembaca), demi kesempurnaan makalah kami selanjutnya.
Munculnya indikasi dan keberagaman dan kesalahan sosial masyarat ahir-ahir ini ternyata juga dikarenakan munculnya sesuatu yang tidak ideal dikalangan masyarakat. Dengan melihat maraknya kesadaran dalam beribadah dan kegiatan rutinitas sviritual semua ditingkat masyarakat, yaitu dengan menjamurnya masjid, bertambahnya minat masyarakat untuk melaksanakan ibadah haji, semaraknya majlis dzikir dan majlis ta’lim, meningkatnya siaran keagamaan melalui stasiun televisi dan redio serta tumbuhnya institusi-nstitusi yang berlabel syari’ah, merupakan penomena yang haarus direspon secara aktif dan posirif oleh para da’i.
Melihat fenomena yang tidak ideal ini, dakwah, tidak hanya dilakukan secara sporadis dan dibiarkan hanya sekedar tren, tetapi memerlukan penataan dan pendekatan yang sistematik dan holistik guna mencapai tujuan dakwah.
Mataram, 25. 03. 2013
Daftar Isi
KATA PENGANTAR
Daftar isi ……………………………………………………………………………………………
BAB I
PENDAHULUAN
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Dakwah Dan Pluralisme Masarakat ………………………………………………..
B.     Dakwah Dan Hubungan Antar Umat Beragama ……………………………….
C.     Dakwah Berbasis Multikultural ………………………………………………………
D.    metode dakwah berbasis multikulturalisme ………………………………………
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan ……………………………………………………………………………………….
BAB I
PENDAHULUAN
Pada penghujung kala kedua puluh dan memasuki kala dua satu ini, timbul wacana gres dalam pemikiran dakwah, sebagai respon terhadap perubahan-perubahan besar yang terjadi, misalnya pergeseran contoh pemikiran dari modern ke paska modern. (Banting. 2006: 18). Paradigama gres dakwah ini, dilatarbelakangi terutama oleh dua fenomena gres paska modern, yakni globalisasi dan perkembangan politik praktis. (Southphommanase, 2005:401).
Baik fenomena globalisasi, maupun perkembangan politik praktis di dunia belakangan ini, masing-masing menghadapkan dilema dakwah kontemporer kepada bentuk masyarakat majemuk multi budaya dan multi etno-religius. (Squires. 2002: 114).
Dari sudut dilema globalisasi, dakwah dihadapkan kepadan dilema perihal bagaimana caranya memberikan pesan-pesan Islam dalam konteks masyarakat global yang ditandai dengan makin sempitnya sekat-sekat antar kultur dan sekat masyarakat etnoreligius.
(Effendy. 2001: 5).
            Persoalan-persoalan dunia ketika ini tidak lagi bersifat lokal, dan akhirnya tidak lagi menjadi tanggung jawab komunitas tertentu. Lebih dari itu, persoalan-persoalan itu kini mengglobal, menjadi dilema umat insan secara umum, dan akhirnya menjadi tanggung jawab bersama. (Ibid: hal. 119). Penyelesaiannya tidak mungkin secara independen, tapi interdependensi yang menuntut keterlibatan aktif semua anggota masyarakat dunia secara simultan. Keharusan mereka untuk terlibat dalam memecahkan dilema global, pada gilirannya tidak lagi mengizinkan suatu peradaban atau komunitas mengisolasi diri dari peradaban atau komunitas lainnya. (Ibid, h. 4).
            Basis pemikiran dakwah mulitkultural sejatinya berangkat dari pandangan klasik dakwah kultural, yakni pengukuhan doktrinal Islam terhadap keabsahan keberadaan kultur dan kearifan lokal yang tidak bertentangan dengan prinsip tauhid. Hanya saja, dakwah multikultural berangkat lebih jauh dalam hal intensitas atau keluasan cakupan kulturnya. Kalau dakwah paradigm kultural hanya berfokus pada dilema bagaimana pesan Islam dapat disampaikan lewat kompromi dengan budaya tertentu, maka dakwah multikultural memikirkan bagaimana pesan Islam itu disampaikan dalam situasi masyarakat yang plural, baik kultur maupun keyakinannya, tanpa melibatkan unsur “monisme moral” yang bias merusak pluralitas budaya dan keyakinan itu sendiri. Pendekatan multikulturalisme mencoba melihat yang banyak itu sebagai keunikan tersendiri dan tidak seharusnya dipaksa untuk disatukan, tetapi tetap berjalan harmonis dalam keragaman. (Mulyana, 2003: 69). Intinya, pendekatan multikulturalisme dalam dakwah berusaha untuk mencapai dua hal, yaitu titik temu dalam keragaman, dan toleransi dalam perbedaan. Dakwah dengan pendekatan multikulturalisme yaitu sebuah pemikiran dakwah yang conrcern pada penyampaian pesan-pesan Islam dalam konteks masyarakat plural dengan cara berdialog untuk mencari titik temu atau kesepakatan terhadap hal-hal yang mungkin disepakati, dan membuatkan daerah untuk hal-hal yang tidak bisa disepakati. (Ibid, hal. 45).
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Dakwah Dan Pluralisme Masarakat
Plarisme,1 bermakna kemajmukan. Bangsa indonesia yaitu bangsa yang peluralistik, karna terdiri dari aneka macam suku, bahasa, etnis dan agama. Persepektip bahuwa seperti anutan islam akan membawa masyarakat kepada kehidupan yang monolitik, dan bahwa peluralitik, yaitu persepsi yang keliru. Bukti paling terang bahwa anggapan tersebut tidak benar yaitu pada waktu rasulullah SAW mendirikan negara madinah pada tahun 622 M. Negara madinah yang didirikan oleh Nabi muhammad SAW itu terdiri dari masyarakat yang pluralistik. Sehingga dengan demikian dibutuhkan suatu perjanjian dengan suku-suku bangsa yang ada di kota Madinah tersebut yang pda waktu itu agamanya berlainan.
Perjanjian oleh Nabi Muhammad SAW dengan suku-suku bangsa yang berbeda keyakinan dan agamanya itu menunjukkan bahwa semenjak semula, agama isslam telah menunjukkan watak menghormati pluralistik. Dan anutan toleransi yang dikedepankan islam, yaitu bukti faktual bahwa Islam telah menghormati dan sekaligus mempraktikkan toleransi itu dalam kehidupan masyarakat secara nyata.2

1    istilah pluralisme, kemajemukan, yang digunakan dalam sossiologi moderen dan ilmu politik pada umumnya mengacu pada tradisi demokrasi liberal barat, yaitu pluralisme group yaitu kelompok elite yang saling membuatkan kekuatan atau bersaing untuk memenangkan kekuatan secara terus menerus. Dewasa ini ada kecendrungan umum bahwa pluralisme yang ideal sebaiknya ‘’berkiblat’’ pada dunia barat khususnya amerika yang multi etnis, budaya dan agama. Argumen ini pada dasarnya menunjukkan sikap infrerior kompleks dari dunia ketiga pluralisme yang dirumuskan oleh para pemikir amerika, khususnya James Madison (1751-1836), memang turut memberi andil besar dalam menyuburkan kehidupan berdemokrasi di barat, khususnya di Amerika Serikat. Akan tetapi, bukan berarti pluralisme ini tidak meninggalakan masalah. Karena liberalisme dalam negara ini tidak di topang oleh nilai-nilai agama, sehingga isu-isu moderen yang berkembang dalam masyarakat skuler hampir tidak pernah mencapai harmoni, Lihat Prof. Abdurrahman Mas’ud, M.A., Ph. D, Menuju paradigma Islam Humanis, Yogyakarta: Gama media 2003, hlm 42.
2    M. Dawam Rahardjo (Editor), Model Pembangunan Qaryah Thayibah, Jakarta: Penerbit Intermasa, 1997, hal 78
Ajaran islam pada dasarnya bersifa iksklusif. Karena islam yaitu agama keterbukaan dan siap berdampingan dengan paham-paham di luar islam.
Menurut Prof. Abdurrahman Mas’ud, M.A.,Ph.D bahwa ‘’Inklusifisme dalam wawancara keagamaan semestinya bersifat ideologis, bukan sesuatu yang tektis-rekatif. Definisi takwa misalnya, selama ini bagi komunitas beragama sering diceraikan dengan aspek inklusivisme, yakni kesadaran akan keadaan Tuhan selama hidup dan dalam waktu yang sama sekaligus kesadaaran akan adanya kelompok dan agama lain (The otherness) yang harus diterima secara alamiah untuk hidup berdampingan dengan dunia (Feacifull coexistence). Pluralisme dalam segala bentuknya merupakan sunnatullah dan sekaligus etika global. Dengan demikian, klompok yang alergi dengan inklusivisme tidak saja berhadapan dengan mainsgtram religiosistas, tetapi juga tidak dapat diterima oleh masyarakat. Di sinilah perlunya pemberdayaan masyarakat indonesia yang religius dan tanpa pagar atau dengan istilah lain Indonesia without bordes.3
B.     Dakwah Dan Hubungan Antar Umat Beragama
Dalam keadaan masyarakat yang pluralis menyerupai indonesia, suatu seni administrasi dakwah harus dipersiapkan untuk mencapai keberhasilan dakwah islam.
Tugas dakwah, pada dasarnya mengandung dua segi yaitu membina dan mempertahankan.
Pertama,  membina mereka yang muslim dari semenjak lahir maupun yang gres masuk islam yaitu untuk keberhasilan dakwah islam.
Kedua, mempertahankan islam dan umat islam dari mereka yang tidak senang melihat kemajuan dan bahkan yang melihat islam sebagai rivalnya.
Seorang juru dakwah diajarkan supaya memanggil semua orang kepada jalan ollah dengan cara yang bijaksana, Aplkasi konsep bi al-hikmah dalam suatu masyarakat yang terdiri dari pemeluk aneka macam agama menyerupai di Indonesia, yaitu mutlak diperlukan.

1.       Prof. Abdurrahman Mas’ud, M.A., Ph. D., op. Cip., hal 156
2.       Dapat di lihat pada episode 24 kode etik dakwah hal. 236


C.     Dakwah Berbasis Multikultural
Sebagai paradigma gres dalam dakwah yang dihadapkan pada dilema globalisasi dan perkembangan politik praktis, maka dakwah berbasis multikulturalisme memiliki ciri khas tersediri yang membedakannya dengan dakwah konvensional. Terkait dengan ini, setidaknya dapat disebut empat ciri khas yang perlu diperkenalkan jikalau ingin melaksanakan dakwah dengan pendekatan multikulturalisme.
Pertama, mengakui dan menghargai keunikan dan keragaman etno-religio. Dalam pendekatan multikulturalisme, keunikan masingmasing budaya atau keyakinan itu amat dihormati dan dihargai, sehingga multikulturalisme berbeda sama sekali dengan relativisme dan sinkretisme. Dalam multikulturalisme, keragaman budaya dan keyakinan itu dinilai sebagai sebuah fakta dan bukan problem, akhirnya ia harus diterima apa adanya. (Ibid, hal. 96). Dalam perspektif multikulturalisme, orang boleh menentukan satu dari banyak keyakinan untuk dirinya, tanpa perlu menilai bahwa yang tidak dipilihnya itu lebih rendah nilainya dari keyakinan yang dipilih. Sebaliknya, masing-masing keyakinan dan budaya itu harus dilihat sebagai yang unik dan sobat seperjalanan (fellow traveler). (Ujan, Op.Cit: 100). Karena itu, multikulturalisme tidak berarti relativisme yang memiliki konotasi menyamakan keyakinan atau budaya, dan bukan juga sinkretisme, yang berarti mencampuradukan beberapa paham ideologi atau keyakinan. Multikulturalisme bukan relativisme, yang berarti suatu paham yang menyamakan kebenaran-kebenaran lokal, dan bukan pula sinkretisme yang berarti sinkretisme yang serupa dengan relativisme, alasannya yaitu tidak memilih keyakinan atau budaya tertentu, alasannya yaitu beranggapan bahwa semunya serba relatif, bisa diragukan, dan tidak bernilai.
            Kedua, mengakui adanya titik kesamaan dalam keragaman etnoreligio. Dalam pendekatan multikulturalisme, diakui adanya titiktitik kesamaan antara pelbagai keyakinan dan kultur yang beraneka ragam di samping juga tidak ditolak adanya aspek-aspek yang tidak mungkin dikompromikan (uncompromiseable). Mengikuti alur berpikir multikulturalisme, keanekaragaman budaya dan keyakinan itu tidak mengandaikan suatu perbedaan yang tidak terjembatani. Perbedaan-perbedaan itu, terbentuk oleh situasi dan konteks yang tidak terpatok mati dalam sejarah, melainkan selalu berkembang. Karena itu, sesungguhya dalam keanekaragaman budaya dan keyakinan selalu terdapat nilai-nilai bersama yang menjadi titik temu dalam membangun kekerabatan sosial. Sebut saja nilai-nilai menyerupai cinta, kebenaran, penghargaan terhadap hidup, kesetiaan, integritas, kesamaan, tanggung jawab dan keadilan, yaitu titik temu dari semua budaya dan agama, dan bukan milik agama dan budaya tertentu. (Ibid, h. 39).

Ali, Yusuf, 2009. The Meaning Of The Noble Qur’an, h. 71. Baca Juga
Mun’im Sirry, Berlomba-lombalah Dalam Kebajikan: Tafsir 5: 48 Dan
Diskursus Kontemporer Plurralisme Agama, dalam Elza Pedi Taher,
ed., Merayakan Kebebasan Beragama, Kompas, Jakarta.
Maksudnya semua nilai yang disebutkan itu dapat ditemukan dalam semua budaya dan agama. Namun demikian, multikulturalisme juga mengakui adanya disensus dalam hal-hal yang sifatnya privat dan tidak bisa dikompromikan. Contohnya menyerupai detail-detail keyakinan dan ritualnya. Terhadap yang terakhir ini, pendekatan multikulturalisme berkepentingan untuk melaksanakan pengelolaan (manajemen konflik) terhadap perbedaan-perbedaan dan berguru hidup di dalamnya. Perbedaan-perbedaan itu harus diakui dan dihargai tanpa perlu menjadikannya sebagai gangguan atau lawan dari keharmonisan. (Ibid, h. 98).
Ketiga, paradigma fenomena keberagamaan sebagai kultur. Pendekatan multikulturalisme mencoba memahami tingkah laku umat beragama sebagai sebuah fenomena kultur. Benar bahwa agama itu tidak bisa disamakan begitu saja dengan kebudayaan. Agama bersumber dari yang suci (ilahiyyah) dan sifatnya imutable dan ahistoris, sedangkan budaya sumbernya yaitu logika insan dan tidak bersifat suci dan menyejarah. Namun demikian, apa yang dinilai sebagai ilahi dan suci, tidak mungkin dipahami kecuali lewat yang manusiawi,duniawi (profane), dan menyejarah atau lewat mediasi budaya. Faktanya tidak ada agama yang bebas budaya, dan semenjak kelahirannya, budaya dan agama selalu saling mempengaruhi. (Ibid, h. 115). Melalui contoh pikir ini, pendekatan multikulturalisme berusaha memahami dan mengakomodir perbedaan-perbedaan keyakinan tersebut dalam konsep dan bingkai budaya yang mendukung adanya tolerasni (tasmauh), harmoni social, dan kerjasama untuk kebaikn dan takwa (al-ta`awun `ala al-birr wa al-taqwa).
Keempat, kemestian progresivisme dan dinamisme dalam memahami agama. Karena yang dilihat melalui pendekatan multikulturalisme yaitu tingkah laku beragama sebagai sebuah kultur, dan bukan agama itu sendiri, maka contoh pikir ini mengandaikan tak adanya “pensakralan” dalam wujud setiap kebudayaan agama. Setiap kebudayaan agama (religio cultural), begitu multikulturalisme, pada dasarnya berwatak “dinamis-progesif, yang bermakna bahwa setiap kebudayaan agama itu yaitu suatu proses yang tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan, sejalan dengan pemahama dan penghayatan perihal agama itu sendiri, serta interaksi para penganut agama dengan sesamanya, dan seiring dengan dinamika dan perkembangan zaman dalam dimensi ruang dan waktudunia. Karena itu, walaupun esesni agama itu suci dan bersumber dari “yang suci”, tapi wujud empiriknya yang ditunjukkan melalui perilaku umat beragama yaitu tidak suci dalam arti mutlak benar.

Sachedina, Abdul Aziz, 2001. The Islamic Roots of Democratic Pluralism,
Newyork: Oxford University Press.
Squires, Judith, 2002. Cultur, Equality and Diversity, In Paul Kelly, ed.,
Multikulturalism reconsidered, Cambridge: Polity Press.
Perilaku keberagamaan sejatinya merupakan konstruksi-kontekstual, yang selalu berkembang sejalan dengan situasi dan kondisi yang mengitarinya. Pola pikir multikulturalisme menolak pandangan “esensialisme ekslusif”, yang berpendapat bahwa pemahaman agama bersifat tetap, stabil dan tidak berubah, sehingga mereka yang memiliki paham berbeda, dipandang dan dihukumi sebagai kelompok sesat dan menyesatkan (ahl al-bida` wa al-ziyagh). Sikap dan paham yang memutlakkan diri ini, tentu tidak sejalan dengan semangat keragaman yang diusung multikulturalisme. (Ibid, h. 17).
Sebagai contoh pikir yang relative baru, paham multikulturalisme menjadikan pro dan kontra di tengah-tengah masyarakat muslim. (Misrawi. 2007: 215).
Kelompok yang kontra, tentu melihat paham ini sebagai paham sesat dan merupakan “projek” Barat untuk melemahkan Islam. Sementara kelompok yang pro mencoba melihat segi-segi positif multikulutralissme, terutama bila dikaitkan dengan pluralitas etno-religio bangsa ini. Untuk keperluan ini, mereka tidak sulit untuk mencari akar-akar paham ini dari sumber-sumber utama Islam itu sendiri, yaitu al-Qur’an dan al-Sunnah, menyerupai di bawaah ini:
 Pertama, ditilik dari segi semantik, multikulturalisme yang secara leteral bermakna paham perihal keragaman budaya, maka dalam hal ini al Qur’an semenjak dini telah memperlihatkan aba-aba bahwa insan itu ditakdirkan Tuhan sebagai yang berbangsa-bangsa dan bersuku-suku (multietnis) semoga mereka itu saling mengenal (li ta’ârafû). Keragaman bangsa dan suku itu, mengandaikan ketiadaan keseragaman keyakinan dan budaya. Karena itu, dalam ayat yang lain, al Qur’an menegaskan bahwa Tuhan tidak berkehendak untuk menjadikan insan ini sebagai yang homogen. Kemudian dilanjutkan bahwa maksud dari ketentuan Tuhan menjadikan insan sebagai multi etnis dan religius itu yaitu semoga mereka saling berlomba-lomba mencari kebaikan (fastabiq al khairât). (QS al Mâidah: 48). Dua kata kunci dari keterangan al Qur’an di atas, yakni saling mengenal (lita’ârafû) dan berlomba-lomba mengejar kebajikan (fastabiq al khairât), yaitu dasar dari sikap multikulturalisme perihal keragaman sebagai fakta di satu sisi, dan kesetaraan kaum beriman dalam kedudukannya sebagai sobat seperjalanan (fellow traveler) di sisi lain. Artinya, bahwa keragaman budaya dan agama itu yaitu kenyataan sebagai wujud dari kehendak Tuhan yang tidak mungkin ditolak, dan akhirnya yang mungkin dilakukan insan hanyalah konstruksi positif. Wujud kongkrit dari konstruksi positif itu yaitu berupa pencapaian prestasi budaya yang bermanfaat bagi kualitas hidup insan (istibâq al khairât), dan itu hanya mungkin diwujudkan bila mana telah terjadi dialog antar budaya dan keyakinan yang beragam (bi al ta’âruf).

Hodgson, Marshal, 1974. The Venture Of Islam: Consience and History
in World a Civilization, The Classical Age of Islam, University of
Chicago Press, Chicago.
Huwaidi, Fahmi. 1999. Muwâtinûn lâ Zimmiyûn, Cet. Ketiga, Dar al
Syuruq, Kairo.
Kedua, sebagai sebuah paham perihal keragaman, multikulturalisme sejatinya yaitu kelanjutan dari paham pluralisme. Sebagai kelanjutan pluralisme, multikulturalisme berusaha untuk menegaskan –di samping mengembangkan –pemikiran pluralisme yang antara lain mengakui adanya common platform antar kebudayaan dan keyakinan yang beraneka ragam itu, sekaligus mengakui pula adanya aspek-aspek yang tidak bisa dikompromikan. Dari sudut akidah Islam, pengukuhan perihal common platform itu dilegitimasi melalui QS Âlu ‘Imran/3: 64 yang berbicara perihal seruan kepada kelompok agama lain untuk mencari benang merah atau titik kesamaan (kalimatun sawâ’) sebagai landasan menjalin dialog dan kerjasama sosial. (Rachman, 2001: 16). Adapun mengenai hal-hal yang tidak mungkin disepakati, maka al Qur’an mengajarkan sikap toleransi (tasamuh) dan melihatnya sebagai yang unik. Ini dilegitimasi melalui QS al Kâfirûn/109: 6 “…bagimu agamamu, dan bagiku agamaku…”. Mengenai yang terakhir ini, sikap toleransi diketengahkan sebagai bentuk pengukuhan Islam atas keragaman keyakinan (dan juga budaya) yang tidak perlu diselesaikan oleh manusia. Demikian itu arena ia yaitu hak prerogeratif Tuhan, dan Tuhan yang berjanji akan menyelesaikannya sendiri di alam abadi nanti. (QS. Al Hajj 59, QS Âlu ‘Imrân: 55, QS Al Mâidah: 48, QS Al An’am: 164).
Ketiga, agama memang berasal dari Tuhan dan kesuciannya dipelihara oleh Tuhan sendiri (wa innâ lahu lahâfizûn), namun pemahaman insan akan agamanya itu tidak suci, tapi berwatak historis dan berjalan dalam garis trial error menuju yang ideal. Karena itu, al Qur’an mengajarkan untuk tidak sekali-kali memutlakan sejarah, tetapi lebih kepada berguru apa yang kurang dari sejarah itu sendiri. Firman Yang Mahakuasa “…sungguh telah berlalu ketentuan-ketentuan Allah, maka berjalanlah di muka bumi dan perhatikan kesudahan orang yang mendustakan…” QS Âlu ‘Imrân/3: 137.
Keempat, alasannya yaitu pemahaman agama insan itu tidak memiliki sifat suci, maka ia terbuka untuk dikritisi, didekonstruksi, dan diramu ulang sesuai dengan kebutuhan perkembangan kemanusiaan. (Rachman, 2010: 488). Terkait dengan ini, al Qur’an mencela orangorang yang berpaham statis, tidak dinamis, atau mempertahankan status quo dan menjuluki mereka dengan sebutan abawiyyun (orang yang gemar mentaklid leluhur). Firman Yang Mahakuasa “…dan jikalau dikatakan kepada mereka, ikutilah apa yang diturunkan oleh Allah, mereka berkata: tidak, kami mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami…” QS al Baqarah/2: 170.
D.    metode dakwah berbasis multikulturalisme
Dakwah multikultural mengajukan acara atau pendekatan dakwah seperti
berikut.

Judith Squires, 2002. Cultur, Equality and Diversity, In Paul Kelly, ed.,
Multikulturalism Reconsidered, Polity Press, Cambridge
Knitter, Paul F., 2008. One Earth Many Religion: Multifaith Dialouge and
Global Responsibility, Alih Bahasa Nico. A. Likumahuwa, BPK
Gunung Mulia, Jakarta
Misrawi, Zuhairi, 2007. Al Qur’an Kitab Tolerans
Pertama, berbeda dengan pemikiran dakwah konvensional
yang menempatkan konversi iman sebagai episode inti dari dakwah, pendekatan dakwah multikultural menilai bahwa dakwah tidak lagi secara eksplisit dimaksudkan untuk mengislamkan umat non muslim. Lebih dari itu, pendekatan dakwah multikultural menekankan semoga target dakwah lebih diarahkan pada pemberdayaan kualitas umat dalam ranah internal, dan kerjasama serta dialog antar agama dan budaya dalam ranah eksternal. Berbeda dengan pendekatan konvensional, pendekatan dakwah multikultural, menyerupai dinyaatakan menilai fenomena konversi non muslim menjadi muslim yaitu efek samping dari tujuan dakwah, dan bukan tujuan utama dari dakwah itu sendiri. Mengikuti pendekatan multikultural, dakwah kontemporer tidak lagi beroreintasi pada aspek kuantitas, tapi lebih kepada kualitas dalam wujud keadilan, kesetaraan, dan kesejahteraan bagi kemanusiaan sejagad. Keragaman budaya dan agama, yaitu sunatullah yang tidak mungkin dirubah atau diganti. Dengan kata lain, yaitu suatu hal mustahil bercita-cita menjadikan insan ini menjadi satu umat, satu agama, dan satu budaya. Bahkan anganangan tersebut justru bertentangan dengan kebijakan (police) Yang Mahakuasa sendiri yang tidak berkehendak untuk menjadikan insan sebagai satu umat (QS. Yunus/10: 99). Melalui pengukuhan adanya kesepakatan atau titik temu antar iman (common platform), maka dalam perspektif dakwah multikultural, menyerupai berulangkali dikatakan Nurcholais madjid, bahwa mengajak orang kepada Islam, tidak selalu identik dengan mengajak orang untuk beragama Islam. (Madjid, Op.Cit: 19).
Kedua, dalam ranah kebijakan publik dan politik, dakwah multikultural menggagas wangsit perihal kesetaraan hak-hak warga negara (civil right), termasuk hak-hak kelompok minoritas. (Rachman, Op.Cit: 674). Tujuan dari acara dakwah ini, terutama dimaksudkan semoga seluruh kelompok etnis dan keyakinan mendapat pengukuhan legal dari negara dari satu aspek, dan bebasnya penindasan atas nama dominasi lebih banyak didominasi dari aspek yang lain. Untuk kepentingan ini pula, pendekatan dakwah multikultural berusaha memberi derma moral dan legitimatif atas budaya politik demokrasi. Demikian itu, alasannya yaitu budaya politik demokrasi – terlepas dari kekuranganya –sampai ketika ini dinilai sebagai yang paling mengakomodir ide-ide egalitarianisme hak sipil dan kelompok minoritas dalam masyarakat multikultural. (Ujan, Opcit: 43-45). Melalui budaya demokrasi ini, dakwah multikultural berusaha semoga kebijakan atau produk politik yang bias etno-religius dapat dieliminasi dan digantikan dengan kebijkan-kebijakan politik yang ramah dan peka terhadap keragaman etnis dan keyakinan masyarakat.
Ketiga, dalam ranah sosial, dakwah multikultural memilih untuk mengambil pendekatan kultural ketimbang harakah (salafi jahidy). Seperti telah disinggung, bahwa pendekatan multikultural sejatinya merupakan kelanjutan dari pendekatan dakwah kultural dengan perbedaan pada tingkat keragaman dan pluralitasnya. Dalam masyarakat multikultural,

Rachman, Budhy Munawar, 2001. Islam Pluralis: Wacana Kesetaraan
Kaum Beriman, Paramadina, Jakarta.
____, 2010. Reorientasi Pembaharuan Islam, LSAF, Jakarta.
Rais, M. Dhiauddin, 2001. Teori Politik Islam, Alih Bahasa Abdul Hayyi
al Kattanie dkk, Gema Insani Press, Jakarta
sepanjang terbebas dari kepentingan politik, keragaman keyakinan dan budaya itu bergotong-royong merupakan fakta yang dapat diterima oleh semua pihak. Adapun konflik yang sering terjadi antar keyakinan dan agama, sejatinya yaitu efek negatif dari perebutan kepentingan dalam ranah politik.\ (Mulkhan. Op.Cit: 195). Untuk tujuan ini, dakwah multikultural memang berbeda dan kurang sepaham dengan pemikiran dakwah yang mengedepankan Islam sebagai manhaj hayah, dan Islam sebagai din, dun-ya dan daulah, seperti digagas dan dikedepankan oleh Sayyid Quthub dan tokoh-tokoh Ikhwan yang lain. (Rachman. Op.Cit: 247). Demikian itu, alasannya yaitu kedua wangsit di atas berpotensi melahirkan radikalisme agama yang ekslusivistik, dan dinilai tidak sejalan dengan perkembangan masyarakat global-multikultural yang inklusif dan plural. Berlawanan dengan di atas, dakwah multikultural memilih pendekatan kultural yang mengedepankan seni administrasi sosialisasi Islam sebagai episode integral umat, dan bukan sesuatu yang absurd melalui pengembangan gagasan Islam sebagai sistem moral (al islam huwa al nizham al akhlaqiyyah). (Mulkhan. Op.Cit: 225).
Keempat, dalam konteks pergaulan global, dakwah multikultural menggagas wangsit dialog antar budaya dan keyakinan (intercultur-faith understanding). Dalam merespon fenomena globalisasi yang sedikit demi sedikit menghapus sekat-sekat antar budaya dan agama sekarang ini, dakwah multikultural, menyerupai diusulkan Mulkan, merasa perlu membangun “etika global” yang digali dari sumber etika kemanusiaan universal yang terdapat dalam seluruh anutan agama. (Ibid: 45). Untuk tujuan tersebut, pendekatan dakwah multikultural memulai agendanya, antara lain, dengan menafsir ulang sejumlah teks-teks keagamaan yang bias ekslusivisme, misalnya, dengan metode hermeneutika. (Rachman. Op.Cit: 508).
Kelima, terkait dengan acara menyerupai tersebut dalam point keempat, para pengggas dakwah multikultural, merasa perlu untuk menyegarkan kembali pemahaman doktrin-doktrin Islam klasik,
dengan cara melaksanakan reinterpretasi dan rekontruksi paham Islam, sesuai dengan perkembangan masyarakat global-multikultural. Seperti telah disinggung, doktrin-doktrin Islam klasik menyerupai terkodifikasi dalam kitab-kitab yang hingga kepada kita sekarang ini, yaitu sebuah penafsiran Islam, dan bukan Islam itu sendiri. Karena itu, ia tidak tertutup, tetapi terbuka untuk dikritisi dan ditafsir ulang. Penafsiran gres anutan Islam itu harus berimbang, berpijak dari orisinalitas tradisi di satu pihak, tapi harus tetap terbuka kepada ideide perkembangan keilmuan kontemporer di lain pihak. (Madjid. Op.Cit: 485). Dengan ungkapan lain, penafsiran itu memang harus terbuka (open minded), tapi juga tidak kehilangan arah, akar, dan tetap mencerminkan identitas keislaman dengan pijakan yang besar lengan berkuasa (al hujjah al balighah) berdasarkan al Qur’an dan Sunnah.

Ujan, Andre Ata. et.al., 2009. Multikulturalisme: Belajar Hidup Bersama
dalam Perbedaan, Indeks, Jakarta
Knitter, Paul F., 2008. One Earth Many Religion: Multifaith Dialouge and
Global Responsibility, Alih Bahasa Nico. A. Likumahuwa, BPK
Gunung Mulia, Jakarta
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Basis pemikiran dakwah mulitkultural sejatinya berangkat dari pandangan klasik dakwah kultural, yakni pengukuhan doktrinal Islam terhadap keabsahan keberadaan kultur dan kearifan lokal yang tidak bertentangan dengan prinsip tauhid. Hanya saja, dakwah multikultural berangkat lebih jauh dalam hal intensitas atau keluasan cakupan kulturnya. Kalau dakwah paradigm kultural hanya berfokus pada dilema bagaimana pesan Islam dapat disampaikan lewat kompromi dengan budaya tertentu, maka dakwah multikultural memikirkan bagaimana pesan Islam itu disampaikan dalam situasi masyarakat yang plural, baik kultur maupun keyakinannya, tanpa melibatkan unsur “monisme moral” yang bias merusak pluralitas budaya dan keyakinan itu sendiri. Pendekatan multikulturalisme
mencoba melihat yang banyak itu sebagai keunikan tersendiri dan tidak seharusnya dipaksa untuk disatukan, tetapi tetap berjalan harmonis dalam keragaman. (Mulyana, 2003: 69). Intinya, pendekatan multikulturalisme dalam dakwah berusaha untuk mencapai dua hal, yaitu titik temu dalam keragaman, dan toleransi dalam perbedaan.
            Dakwah dengan pendekatan multikulturalisme yaitu sebuah pemikiran dakwah yang conrcern pada penyampaian pesan-pesan Islam dalam konteks masyarakat plural dengan cara berdialog untuk mencari titik temu atau kesepakatan terhadap hal-hal yang mungkin disepakati, dan membuatkan daerah untuk hal-hal yang tidak bisa disepakati. (Ibid, hal. 45).
Daftar Pustaka
1.       Abdurrahman Mas’ud, Prof,  M.A., Ph. D. 2004. Menuju Paradigma Islam Humanis. Yogyakarta: Gama Media
2.       Prof. Abdurrahman Mas’ud, M.A., Ph. D., op. Cip., hal 156
3.       Ujan, Andre Ata. et.al., 2009. Multikulturalisme: Belajar Hidup Bersama dalam Perbedaan, Indeks, Jakarta.
4.       Ali, Yusuf, 2009. The Meaning Of The Noble Qur’an, h. 71. Baca JugaMun’im Sirry, Berlomba-lombalah Dalam Kebajikan: Tafsir 5: 48 DanDiskursus Kontemporer Plurralisme Agama, dalam Elza Pedi Taher,
1.       ed., Merayakan Kebebasan Beragama, Kompas, Jakarta.
2.       Paul Edward Gottfried, 2002. Multikulturalism and Politic of Guilt:
3.       Toward a Secular Theocracy, University of Missoury Press, Missoury
4.       US. Rachman, Budhy Munawar, 2001. Islam Pluralis: Wacana Kesetaraan Kaum Beriman, Paramadina, Jakarta.
5.       ____, 2010. Reorientasi Pembaharuan Islam, LSAF, Jakarta. Rais, M. Dhiauddin, 2001. Teori Politik Islam, Alih Bahasa Abdul Hayyi al Kattanie dkk, Gema Insani Press, Jakarta.
6.       Sachedina, Abdul Aziz, 2001. The Islamic Roots of Democratic Pluralism, Newyork: Oxford University Press.
7.       Squires, Judith, 2002. Cultur, Equality and Diversity, In Paul Kelly, ed., Multikulturalism reconsidered, Cambridge: Polity Press.
8.       Tim Southphommanase, 2005. Grounding Multikultural Citizenship:
1.       From Minority Right to Civic Pluralism, dalam Journal Of Intercultural