Kata “phobia” sendiri berasal dari istilah Yunani “phobos” yang berarti lari (fight), takut dan panik (panic-fear), takut hebat (terror). Istilah ini memang dipakai semenjak zaman Hippocrates. Phobia yaitu ketakutan yang luar biasa dan tanpa alasan terhadap sebuah obyek atau situasi yang tidak masuk akal. Pengidap phobia merasa tidak nyaman dan menghindari objek yang ditakutinya. Terkadang juga mampu menghambat aktivitasnya .

Konsep takut dan cemas betautan erat. Takut yaitu perasaan cemas dan agitasi sebagai respons terhadap suatu ancaman. Gangguan fobia yaitu rasa takut yang persisten terhadap objek atau situasi dan rasa takut ini tidak sebanding dengan ancamannya . Penyakit Ketakutan (Fobia) yaitu kecemasan yang luar biasa, terus menerus dan tidak realistis, sebagai respon terhadap keadaan eksternal tertentu .
Definisi phobia menurut kamus psikologi yaitu suatu ketakutan yang kuat, terus menerus dan irasional dengan ditimbulkan oleh suatu perangsang atau situasi khusus, menyerupai auatu ketakutan yang asing terhadap kawasan tertentu. Sementara kartini kartono (1989:112) mendefinisikan phobia sebagai ketakutan atau kecemasan yang abnormal, tidak rasional tidak mampu dikontrol terhadap suatu situasi terhadap objek tertentu. Semua phobia yaitu ketajutan yang tak beralasan, yang bertalian dengan perasaan bersalah atau pun malu, ditekan. Kemudian berubah takut pada suatu yang lain, dengan begitu terpendamlah konflik atau frustasi yang dialaminya.    Jadi phobia yaitu rasa takut yang berlebihan kepada suatu hal atau fenomena yang membuat hidup seseorang yang menderitanya terhambat .
Beberapa pendapat hebat yang mendefinisikan fobia yaitu Jaspers (1923) mendefinisikan fobia sebagai rasa takut yang sangat dnan tidak dapat diatasi terhadap suatu keadaan dan peran yang biasa. Ross (1937) berpendapat bahwa fobia yaitu rasa takut yang khas yang disadari oleh penderita sebagai suatu hal yang tidak masuk akal, tetapi tidak dapat mengatasinya. Errera (1962)  adalah rasa takut yang selalu ada terhadap sesuatu benda atau pendapat yang dalam keadaan biasa tidak menjadikan rasa takut .
Hal yang aneh wacana fobia yaitu biasanya melibatkan ketakutan terhadap peristiwa yang biasa dalam hidup, bukan yang luar biasa. Orang dengan fobia mengalami ketakutan untuk hal-hal yang amat biasa, menyerupai naik elevator atau naik kendaraan beroda empat di jalan raya. Dengan referensi ini, dapat diketahui bahwa fobia dapat mengganggu kalau berkaitan dengan pekerjaan sehari-hari menyerupai naik kendaraan, berbelanja, atau pergi keluar rumah. Berikut ini yaitu tiga tipe fobia berdasarkan sistem DSM, yaitu fobia spesifik, fobia sosial, dan agorafobia.
1. Fobia Spesifik
Fobia spesifik yaitu adanya rasa takut yang besar lengan berkuasa dan menetap akan suatu objek atau situasi . Beberapa subtipe fobia spesifik:
a) Animal Type. Subtipe ini ditandai dengan adanya ketakutan terhadap binatang atau serangga. Subtipe ini umumnya mempunyai onset masa kecil.
b) Natural Environment Type. Subtipe ini ditandai dengan adanya ketakutan terhadap objek – objek dalam lingkungan alami, menyerupai : badai, ketinggian, atau air. Subtipe ini mempunyai onset masa kecil.
c) Blood-Injection-Injury Type. Subtipe ini ditandai dengan adanya ketakutan melihat darah, cedera, mendapatkan injeksi ataupun segala prosedur medis. Subtipe ini sering dijumpai dan karakteristiknya yaitu adanya respon vasovagal.
d) Situational Type. subtype ini ditandai dengan adanya ketakutan terhadap situasi tertentu seperti: transportasi umum, lorong, jembatan, elevator, pesawat terbang, berkendara, atau kawasan tertutup. Subtipe ini mempunyai dua onset, onset pertama pada waktu kecil dan yang kedua pada pertengahan umur 20-an.
e) Other Type. Subtipe ini ditandai dengan ketakutan terhadap stimulasi yang lain. Stimulus dapat berupa ketakutan dikala tersedak, muntah, menderita penyakit, “space” fobia ( seseorang yang takut jatuh dikala berada jauh dari dinding atau sesuatu yang mempertahankan dirinya), anak – anak takut terhadap bunyi yang keras atau abjad berkostum .
Fobia spesifik merupakan ketakutan yang berlebihan dan persisten terhadap objek atau situasi spesifik, seperti:
Acrophobia: takut terhadap ketinggian, bahkan hanya setinggi 2 meter sudah cukup menyeramkan bagi penderita fobia ini.
Claustrophobia: takut terhadap kawasan tertutup/terkunci sehingga orang dengan fobia jenis ini sering berada di taman atau di lapangan olahraga bersama teman-temannya.
Fobia binatang: takut terhadap binatang tertentu menyerupai tikus, ular, atau binatang-binatang menjijikkan.Anda mampu saja mempunyai ketakutan terhadap hewan-hewan tersebut. Namun, kalau ketakutan itu mengganggu kehidupan sehari-hari atau menyebabkan distres emosional yang signifikan di dalam diri Anda (bahkan dikala Anda hanya membayangkan hewan itu), maka barulah Anda mengalami fobia.
Fobia benda-benda tertentu: menyerupai jarum suntik (bukan sakitnya yang mereka takuti, tetapi jarumnya), pisau, benda-benda elektronik, atau benda-benda lain.
2. Fobia Sosial
Fobia sosial yaitu ketakutan yang intens terhadap situasi sosial atau ramai sehingga mereka mungkin sama sekali menghindarinya, atau menghadapinya tetapi dengan distres yang amat berkecamuk. Penderita fobia sosial mengalami ketakutan terhadap situasi sosial menyerupai berkencan, datang ke pesta, pertemuan-pertemuan sosial, bahkan presentasi untuk ujian.  Fobia sosial yang mendasar yaitu ketakutan berlebihan terhadap evaluasi negatif dari orang lain, dalam artian mereka takut dinilai jelek oleh orang lain. Mungkin mereka merasa seolah-olah ribuan pasang mata sedang memperhatikan dengan teliti setiap gerak yang mereka lakukan. Contoh umum untuk fobia jenis ini adalah:
Demam panggung yang berlebihan
Kecemasan berbicara di forum yang berlebihan, bahkan dihadapan orang-orang terdekat sekalipun.
Kecemasan meminta sesuatu, menyerupai memesan makanan di rumah makan alasannya yaitu takut pelayan atau sahabat menertawai makanan yang mereka pesan.
Ketakutan bertemu dengan orang baru, hal ini menyebabkan penderita tidak berkembang dalam hal sosial.
Fobia jenis ini menyebabkan penurunan kualitas hidup penderitanya, menyerupai kualitas untuk mencapai sasaran pendidikan , maju dalam karier, atau bertahan dalam pekerjaan yang membutuhkan interaksi dengan orang lain secara langsung.Sekali fobia sosial tercipta, maka akan berlanjut secara kronis sepanjang hidup.
3. Agorafobia
Agorafobia secara harfiah diartikan sebagai “takut kepada pasar”, yang sugestif untuk ketakutan berada di tempat-tempat terbuka dan ramai (berbeda dengan fobia sosial, agorafobia tidak “mati sosial” kalau berinteraksi dengan orang-orang di kawasan yang sepi).
Agorafobia melibatkan ketakutan terhadap tempat-tempat atau situasi-situasi yang memberi kesulitan bagi mereka untuk meminta tunjangan dikala ada suatu dilema yang menimpa mereka atau orang lain. Orang-orang dengan agorafobia takut untuk pergi berbelanja di toko-toko yang penih sesak, bersempit-sempitan di bus, dan lain-lain yang kira-kira membuat mereka sulit meminta pertolongan .