Al-Ghazali dalam mengupas hakikat manusia, ia menggunakan empat term, yaitu: (1) al-qalb; (2) al-ruh; (3) al-nafs; dan (4) al-‘aql. Keempat istilah ini ditinjau dari segi fisik memiliki perbedaan arti. Menurut Al-Ghazali keempat istilah tersebut masing-masing memiliki dua arti, yaitu arti khusus dan arti umum.

1.    Qalb (Hati, Kalbu)
Kata qalb memiliki dua makna:
a.    Qalb yang berarti sepotong daging yang memiliki bentuk buah shanaubar, yang terletak pada sebelah kiri dada. Merupakan daging yang khusus dan di dalamnya ada lobang dan di dalam lobang itu ada darah yang hitam yang menjadi sumber ruh dan tambangnya.
Makna yang petama ini tidak dipakai dalam membahas yang berkaitan dengan agama ataupun ilmu mu’amalah (pengetahuan yang berkaitan dengan interaksi insan karena hal ini berkaitan dengan ilmu sains atau ilmu kedokteran bukan ilmu agama.
b.    Qalb yang berarti sesuatu yang halus (lathifah) yang bersifat rabbani ruhani. Makna qalb yang kedua ini mempunyai kaitan dengan sepotong daging yang dapat dilihat oleh mata.
Lathifah tersebut bekerjsama ialah jati diri insan atau hakikat manusia. Dia ialah komponen utama insan yang berpotensi memiliki daya tangkap atau persepsi, yang mengetahui dan mengenal, yang ditujukan kepadanya segala pembicaraan dan penilaian, dan yang dikecam dan dimintai pertanggungjawaban. Meski demikian, qalb dengan makna lathifah mempunyai kaitan dengan hati yang kasat mata dan kebanyakan logika insan akan selalu resah untuk mengetahui bagaimana keterkaitan tersebut. Adapun keterkaitannya itu bekerjsama mirip dengan keterkaitan  perangai-perangai yang terpuji dengan tubuh, dan sifat-sifat dengan yang disifati atau keterkaitannya antara orang yang memakai alat dengan alatnya atau keterkaitannya antara yang menempati dengan sesuatu yang ditempati.
Namun uraian lebih rinci perihal semua itu sedapat mungkin harus dihindari karena dua hal: pertama, bahwa hal itu berkaitan dengan ilmu mukasyafah (ilmu yang didapat lewat penyikapan spiritual) sedangkan yang dibahas dalam hal ini hanyalah yang termasuk dalam ilmu mu’amalah. Dan kedua, bahwa hal itu sama dengan upaya menyikap diam-diam ruh. Dan demikian itu termasuk apa yang tidak diungkapkan oleh Rasulullah Saw.
2.    Ruh (nyawa)
Dalam hal ini ruh juga mempunyai dua makna:
a.    Sesuatu yang ajaib (tidak kasat mata), yang bersemayam dalam rongga “hati biologis’, dan mengalir melalui urat-urat dan pembuluh-pembuluh, ke seluruh anggota tubuh. Adapun mengalirnya dalam tubuh dengan membawa limpahan cahaya-cahaya kehidupan, perasaan, penglihatan, indera pendengaran dan penciuman ke dalam semua anggota badan, adalh menyerupai melimpahnya cahaya dari pelita yang dikelilingkan ke seluruh penjuru rumah. Setiap kali pelita itu hingga ke sebuah ruangan, maka ruangan itu menjadi terperinci kesudahannya .
Adapun permisalan kehidupan ialah menyerupai di atas dinding-dinding rumah. Sedangkan ruh diibaratkan pelita/lampu. Dan berjalannya ruh atau gerakannya ialah mirip gerakan lampu pada sudut-sudut rumah dengan digerakkan lampu pada sudut-sudut rumah dengan digerakkan oleh penggeraknya. Para dokter apabila mengatakan perkataan ruh secara umum, maka yang mereka maksudkan yakni mirip dengan bukhar (uap atau gas) lembut yang dimatangkan oleh kehangatan hati. Akan tetapi hal ini tidak dibahas dalam ilmu Imu mu’amalah  karena hal demikian dipakai dokter dalam mengobati tubuh.
b.    Bagian dari insan yang halus (lathifah), yang memiliki kemampuan untuk mengetahui dan mencerap. Dan itulah yang dimaksud dalam firman Tuhan Swt. “katakanlah: “ruh itu termasuk Tuhanku” (al-Isra : 85). Begitulah, ruh memang ciptaan Tuhan yang amat menakjubkan, membuat kebanyakan logika dan pemahaman insan tak berdaya meliputi pengetahuan perihal hakikatnya.
3.    Nafs
Kata nafs juga mengandung beberapa makna (jiwa, sukma, diri, nafsu dan sebagainya). Namun dalam hal ini yang dibahas hanya dua makna saja:
a.    Terdapat dalam bahasa indonesia yang sama dengan kata ‘nafsu’ memiliki cakupan emosi atau amarah (ghadhab) dan ambisi atau hasrat (syahwah) dalam diri manusia. Makna yang inilah yang sering kali dipakai dalam kalangan para hebat tasawuf, karena mereka mengartikan kata nafs sebagai sesuatu yang mencakup sifat-sifat tercela pada diri insan .
b.    Yang halus yang telah disebutkan di mana pada hakikatnya dialah manusia, yaitu: sesuatu yang abstak yang membentuk diri insan secara hakiki. Tetapi nafsu itu disifati dengan sifat-sifat yang bermacam-macam menurut keadaannya. Jika ia dalam keadaan selalu damai dan tenteram (dalam mendapatkan ketentuan Tuhan Swt.) dan terhindar dari gelisah yang disebabkan oleh banyak sekali macam godaan ambisi, maka ia disebut nafs muthmainnah (jiwa yang tenteram) . Seperti dalam firman Tuhan Swt.,
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ (٢٧)ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً (٢٨)
“wahai nafs muthmainnah, kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan ridha dan diridhai sepenuhnya.” (QS Al-Fajr: 27).
Apabila tidak tepat ketenangannya, tetapi dia menjadi pendorong bagi nafsu-shahwat dan penentang atasnya, maka disebut nafsu lawwamah karena dia mencaci pemiliknya dikala ia teledor dalam beribadah kepada Tuhannya.
وَلا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ (٢)
“dan saya bersumpah dengan jiwa yang selalu mengecam” (QS Al-Qiyamah: 2).
Jika nafsu itu tunduk dan taat kepada tuntutan nafsu-shahwat dan dorongan-dorongan syaitan, maka dinamakan nafsu yang mendorong kepada kejahatan (ammarah bis suu’).
4.    Aql (Akal)
Kata logika juga memiliki beberapa makna, namun yang akan dibahas hanya dua arti:
a.    Aql ialah pengetahuan perihal hakikat segala sesuatu yang bertempat di hati.
b.    Yang dimaksud dengan kata aql ialah episode (dari manusia) yang memiliki kemampuan untuk menyerap pengetahuan. Dan kita mengetahui bahwa dalam diri setiap orang ada sesuatu wadah yang menampung pengetahauan. Selanjutnya, pengetahuan ialah sifat yang menetap dalam wadahtersebut, jadi, pengetahuan tidak identik dengan wadah yang menampungnya. Oleh karena itu, kata “akal” adakalanya juga untuk menyebutkan perihal wadah pengetahuan dalam diri orang itu. Dan itulah yang dimaksudkan Rasulullah Saw., “yang pertama kali diciptakan Tuhan ialah akal”. Sebab, pengetahuan adalah  sesuatu yang bersifat aradh (aksiden), tidak dapat dibayangkan sebagai ciptaan (makhluk) yang pertama. Tentunya wadahnya telah tercipta sebelumnya atau bersamaan dengannya. Juga karena tidak mungkin ditujukan pembicaraan kepadanya. Dalam kelanjutan hadits itu disebutkan bahwa Tuhan Swt. Berkata kepadanya “datanglah!” maka ia pun datang. Kemudian diperintahkan kepadanya, “pergilah!” maka ia pun pergi.