Mengenai keimanan antara keimanan kepada Tuhan dan pengalaman ajaranNya dengan kesehatan mental. Dalam Al qur’an banyak ayat yang menunjukkan bahwa untuk mencapai insan kamil harus benar-benar dapat sinergis antara agama dan kehidupan sebagaimana hal dibawah ini :

1.    Surat at tin mengisyaratkan bahwa insan akan mengalami kehidupan yang hina atau jatuh martabatnya termasuk juga psikologis yang tidak nyaman (mentalnya tidak sehat)  kecuali orang-orang yang beriman dan berinfak shaleh (berbuat kebajikan)
2.    Senada dengan surat at tin yaitu surat al ashr yaitu bahwa semua insan itu merugi (celaka hidupnya), tidak tentram atau perasaan gundah dan gelisah kecuali orang-orang yang beriman, berinfak sholeh dan saling mewasiati dengan kebenaran dan kesabaran
3.    Surat ar ra’du ayat 28 yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan berdzikir kepada Yang Mahakuasa lah hati akan menjadi tentram (bahagia)
4.    Surat al baqoroh ayat 112 yaitu tidaklah demikian barang siapa yang menyerahkan diri kepada Yang Mahakuasa sedang ia berbuat kebajikan maka baginya yakni pahala pada sisi TuhanNya dan tiidak ada kekuatiran atau kecemasan dan tidak pula kesedihan bagi mereka
5.    Surat al ahqof ayat 13 yaitu bekerjsama orang yang menyatakan Tuhan kami yakni Allah, kemudian mereka tetap istiqomah (teguh pendirian keimanan kepada Yang Mahakuasa dan menjalankan syriatNya) maka tidak ada kekhawatiran bagi mereka dan tidak pula berduka cita
6.    Surat al isra ayat 82 yaitu dan kami menurunkan dari al qur’an sebagai obat (penawar) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman
Konsep muslim ideal menurut Maslow dan Mittehnann yakni sebagai berikut :
1.    Memiliki perasaan aman (sense of security) yang tepat, bisa mengadakan kontak sosial dalam keluarga bidang kerja dan masyarakat
2.    Penilaian diri (self evaluaton) dan insight rasional. Ada rasa harga diri yang cukup memiliki perasaan sehat secara mental tanpa ada rasa berdosa. Mempunyai kemampuan mengetahui tingkah laku insan lain yang tidak sosial dan tidak human sebagai fenomena masyarakat
3.    Mempunyai spontanitas dan emosional yang tepat. Mampu menciptakan relasi berpengaruh dan dekat serta lama. Misalnya persahabatan dan relasi cinta, dll
4.    Mempunyai kontak dengan realitas secara efisien yaitu kontak dengan dunia fisik tanpa ada fantasi dan angan-angan yang berlebihan. Kontak dengan dunia sosial, berpandangan realitas dan cukup luas ihwal dunia manusia
5.    Memiliki dorongan dan nafsu jasmani yang sehat serta bisa untuk memenuhi dan memuaskan
6.    Mempunyai pengetahuan diri yang cukup antara lain dapat menghayati motif-motif hidup dalam kesadaran tahu akan nafsu dan hasrat, harapan dan tujuan hidup yang realistis dan dapat membatasi ambisi dalam batas normal
7.    Mempunyai tujuan hidup yang adekuat artinya tujuan dapat dicapai dengan kemampuan sendiri sifatnya realistis
8.    Memiliki kemampuan untuk berguru dari pengalaman hidupnya
9.    Ada kesanggupan untuk memuaskan tuntutan dan kebutuhan kelompoknya
10.    Mempunyai sikap emansipasi yang seht terhadap kelompok dan kebudayaannya. Dapat membedakan baik dan buruk
11.    Memiliki integrasi dalam kepribadiannya
Menurut thantowy, tercapainya suatu kelebihan hidup insan apabila tidak menunjukkan penyimpangan dari budpekerti dan tidak pula menunjukkan penyimpangan aqidah atau iman. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pentingnya membangun, membina, menerapkan pendidikan agama terhadap anak semenjak dini. Karena nilai-nilai agama yang terinteralisasi atau mempribadi semenjak kecil akan menjadi benteng budpekerti yang kokoh dan bisa mengontrol tingkah laku dan menjalin kehidupan serta menjadi obat anti penyakit gangguan jiwa. Agar penanaman kaidah agama tersebut mudah diamalkan oleh anak maka cara yang paling ampuh untuk ditempuhnya orang tua, guru dll yaitu dengan menawarkan pola tauladan yang baik. Orangtua dan guru mengemban misi untuk mengarahkan huruf anak melalui proses pendidikan dan pengajaran. Melalui proses pendidikan itu seorang guru akan menanamkan rasa cinta dan ketertarikan seorang anak pada ilmu pengetahuan, alasannya yakni ilmu pengetahuan pada hakikatnya merupakan simbol kemuliaan tertinggi pada setiap orang.  Tidak seorang pun yang tidak ingin menikmati ketenangan dan kebahagiaan hidup. Dan semua orang akan berusaha untuk mencarinya walaupun tidak semua bisa untuk dicapai sesuai dengan yang diinginkannya.