Ghuluw secara etimologi ialah berlebihan, naik , melampaui batas dan secara syara’ berlebihan dalam suatu perkara dan bersikap ekstrem padanya dengan melampaui batas yang telah di syari’atkan (Fathul Bari 13/ hal 291).

Penyakit langsung muslim yang bernuansa afeksi salah satunya ialah sikap Ghuluw atau berlebih-lebihan. Ghuluw merupakan sikap yang melampaui batas kebenaran dan sesuatu yang berlebihan akan keluar dari jalan yang lurus.
Dalam surat an Nisa’ : 170

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلا الْحَقَّ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَلا تَقُولُوا ثَلاثَةٌ انْتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ إِنَّمَا اللَّهُ إِلَهٌ وَاحِدٌ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلا

Wahai Ahli Kitab, janganlah kau melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kau mengatakan terhadap Tuhan kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putra Maryam itu, ialah utusan Tuhan dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kau kepada Tuhan dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kau mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Tuhan Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Tuhan dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi ialah kepunyaan-Nya. Cukuplah Tuhan sebagai Pemelihara.


قَوْمٍ أَهْوَاءَ تَتَّبِعُوا وَلا الْحَقِّ غَيْرَ دِينِكُمْ فِي تَغْلُوا لا الْكِتَابِ أَهْلَ يَا قُلْ
 السَّبِيلِ سَوَاءِ عَنْ وَضَلُّوا كَثِيرًا وَأَضَلُّوا قَبْلُ مِنْ ضَلُّوا قَدْ

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kau berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kau mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.”
Ghuluw dalam agama berarti sikap dan perbuatan berlebih-lebihan dan melampaui apa yang dikehendaki syari’at baik berupa keyakinan maupun perbuatan.
Tuhan menyuruh insan untuk beribadah kepadaNya dan mendekatkan diri kepada Nya. Dan sikap berlebih-lebihan seorang individu dalam menjalankan ibadahnya merupakan hal yang dibenci oleh Tuhan dan RosulNya.
Seseorang yang melaksanakan sikap ghuluw disebabkan oleh :
1.    Kekurangan ilmu
2.    Tidak memahami hakikat agama
3.    Sempitnya wawasan
4.    Fanatisme buta

Syari’at Agama merupakan landasan seorang individu dalam menjalankan agamanya yang meliputi ubudiyah, munakahat dan muamalah. Sikapa ghuluw yang terjadi dalam syari’at merupakan hal penting yang perlu diperhatikan karena mampu mnyebabkan penyimpangan yang besar dalam agama dan membawa pada dosa besar.
Menurut Imam al Razi ghuluw itu ada dua yakni ghuluw mahmudah ( terpuji) ibarat penelitian dalam mecari hakikat sesuatu dan berusaha menemukan argumentasi mutakallimun sedangkan ghuluw madzmumah (tercela) yang mampu mela
Sikap berlebihan ini mampu terjadi dalam tiga aspek syari’ah tadi. Individu berlaku ghuluw karena mereka belum memahami secara tepat syari’at yang diterima.
Ghuluw Dalam ibadah dapat diartikan dengan mewajibkan dirinya kepada sesuatu yang tidak pernah diwajibkan Tuhan dan mengharamkan sesuatu untuk dirinya padahal Tuhan tidak pernah mengharamkan untuknya. Ada juga yang lebih mengutamakan ibadah sunnah daripada ibadah wajib.
Seperti dalam sebuah hadits dikisahkan bahwa:
Ada seorang sobat yang mengaku dihadapan Nabi bahwa ia shalat malam tiada berhenti-berhenti, puasa setiap hari dan tidak menikah. Rosulullah pun terpengarah dengan sikap ekstrem tersebut.
Beliau menjawab:

أنتم الذين قلتم كذا وكذا ؟ أما والله إني لأخشاكم لله و أتقاكم له لكنّي أصوم و أفطر و أصلّي وأرقد وأتزوّج النساء فمن رغب عن سنتي فليس منّي

 

“ kaliankah yang mengatakan begini dan begini? Adapun diriku, demi Azza wa Jalla saya ialah orang orang yang paling takut dan paling taqwa kepadaNya, tetapi saya berpuasa saya juga berbuka saya sholat dan saya juga tidur serta menikahi wanita dan barang siapa yang tidak suka dengan sunnah ku maka ia bukan adegan ku”
Ghuluw itu dilarang dalam agama sebagaimana yang telah dilakukan oleh jago kitab pada zaman dulu sehingga membawa penganutnya berada pada jalan yang menyimpang dan tidak diridhoi oleh Tuhan SWT.
Kesehatan Jiwa  ialah perasaan sehat dan bahagia serta bisa mengatasi tantangan hidup, dapat mendapatkan orang lain sebagaimana adanya serta mempunyai sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain. Kesehatan mental diambil dari konsep “Mental Hygiene”.

Kata mental berasal dari bahasa yunani yang pengertiannya sama dengan psyche dalam bahasa latin yang artinya psikis, jiwa atau kejiwaan. Sehingga istilah mental hygiene diartikan sebagai kesehatan mental atau kesehatan jiwa. Menurut jalaludin dalam bukunya psikologi agama bahwa kesehatan mental merupakan suatu kondisi batin yang senantiasa berada dalam keadaan tenang, aman dan tentram dan upaya untuk menemukan ketenangan batin dapat dilakukan antara lain melalui penyesuaian diri secara resignasi (penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan).  Dari kalangan psikiatri mendefinisikan kesehatan mental ialah terhindarnya orang dari gejala gangguan jiwa (neurose) dan dari gejala-gejala penyakit jiwa (psychose).
Karakteristik mental yang sehat sebagai berikut:
1.    Terhindar dari gejala-gejala gangguan jiwa dan penyakit jiwa
a.    Yang neurose masih mengetahui dan mencicipi kesukaran sebaliknya yang kena psikoses tidak
b.    Yang neurose kepribadiannya tidak jauh dari realitas dan masih hidup dalam alam kenyataan pada umumnya sedangkan yang kena psikose kepribadiannya dari segala segi (tanggapan, perasaan, emosi dan dorongan-dorongan) sangat terganggu, tidak ada integritas dan ia hidup jauh dari alam kenyataan
2.    Dapat menyesuaikan diri
Seseorang dapat dikatakan memiliki penyesuaian diri yang normal manakala beliau bisa memenuhi kebutuhan dan mengatasi masalahnya secara wajar, tidak merugikan diri sendiri dan lingkungannya
3.    Memanfaatkan potensi semaksimal mungkin
Individu yang sehat mentalnya ialah yang bisa memanfaatkan potensi yang dimilikinya dalam kegiatan-kegiatan yang positif dan konstruktif bagi pengemban kualitas dirinya
4.    Tercapainya kebahagiaan langsung dan orang lain
Orang yang sehat mentalnya menampilkan perilaku atau respon-respon terhadap situasi dalam rangka memenuhi kebutuhannya, menunjukkan dampak positif bagi dirinya dan orang lain. Dia mempunyai prinsip bahwa tidak akan mengorbankan hak orang lain demi kepentingan dirinya sendiri
Indikator atau ciri-ciri langsung yang sehat:
1.    Mampu berguru dari pengalaman
2.    Mudah beradaptasi
3.    Lebih dermawan daripada menerima
4.    Lebih senang menolong daripada di tolong
5.    Mempunyai rasa kasih sayang
6.    Memperoleh kesenangan dari hasil usahanya
7.    Menerima kekecewaan untuk dipakai sebagai pengalaman
8.    Berfikir positif
9.    Perasaan aman, bebas dari rasa cemas
10.    Rasa harga diri yang mantap
11.    Spontanitas dan kehidupan emosi yang hangat dan terbuka
12.    Mempunyai keinginan-keinginan yang sifatnya duniawi, jasmaniyah yang wajar dan bisa memuaskannya
13.    Dapat berguru menyerah dan merendahkan diri sederajat dengan orang lain
14.    Tahu diri, artinya bisa menilai kekuatan dan kelemahan dirinya (baik fisik maupun psikis) secara sempurna dan objektif
15.    Mampu melihat realitas sebagai realitas dan memperlakukannya sebagai realitas (tidak menghayal).
Agama Islam merupakan agama yang sempurna, salah satu bukti kesempurnaannya ialah bahwa di dalam agama Islam telah memiliki adanya ide-ide wacana konseling yang telah termuat di dalam al-Qur’an serta tergambarkan melalui kehidupan baginda Rasulullah Muhammad SAW. Dalam kehidupannya, Rasulullah telah mengaplikasikan nilai-nilai konseling, terlihat dari bagaimana cara dia mendidik, membina, mengarahkan, membantu dan mengajari umatnya. Rasulullah merupakan daerah menumpahkan dan menuntaskan menyebarkan macam masalah/problem yang tengah dihadapi oleh umat islam pada ketika itu.

Eksitensi Nabi Muhammad sebagai seorang Rasul yang memiliki kemampuan menyelesaikan permasalahan umat dan membawa mereka pada pencerahan baik lahir maupun batin, di benarkan dalam al-Qur’an, ibarat yang terdapat dalam Alquran surat al Ahzab ayat 45 – 46 dan surat al Jumu’ah ayat 2.

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا (٤٥)وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا (٤٦)
“Hai Nabi, Sesungguhnya Kami mengutusmu untuk Makara saksi, dan pembawa kabar gemgira dan pemberi peringatan. Dan untuk Makara penyeru kepada agama Tuhan dengan izin-Nya dan untuk Makara cahaya yang menerangi.” (QS al Ahzab: 45 – 46). 
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الأمِّيِّينَ رَسُولا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ (٢)
“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta karakter seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan Hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Al Jumu’ah: 2).
Sebagai contoh, perilaku dia yang menyampaikan konseling ibarat yang terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dari Umar ibn Salamah tanggungan nabi SAW, menceritakan wacana dirinya; “dahulu disaat saya berada dalam tanggungan Rasulullah SAW, tanganku selalu aktif berpindah-pindah dari satu piring makan ke piring makan yang lain, lalu dia bersabda kepadaku: wahai anak muda, sebutlah nama Tuhan SWT, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah apa yang akrab dengan tanganmu.” 
Dari hadits di atas dapat kita ambil suatu pelajaran konseling. Pertama, sikap kesediaan nabi makan bersama orang kecil dalam satu meja menyampaikan penghargaan dia terhadap insan tanpa membedakan adanya status sosial. Kedua, kemampuan nabi untuk mengingatkan seseorang berada dalam kondisi yang tepat yakni ketika seseorang tersebut melaksanakan sebuah kesalahan, sehingga orang tersebut akan senantiasa mengingat dan mudah memperbaikinya. Ketiga, nabi Muhammad memanggil dengan panggilan yang menyejukkan hati atau panggilan yang disenangi oleh lawan bicaranya. Dan yang keempat, nabi Muhammad berusaha memperbaiki perilaku seseorang ketika nabi selesai mengamati kebiasaan yang salah dari perilaku seseorang, sikap dia terhadap perilaku individu yang menyimpang merupakan sebuah kondisi yang baik untuk menyikapi sebuah persoalan dan menyikapi perilaku yang melaksanakan kesalahan dan atau seseorang yang mengalami masalah.
Contoh di atas menyampaikan bahwa secara praktis konseling agama telah di kembangkan semenjak awal kerasulan beliau. Namun, penamaan acara yang dilakukan dia saja yang belum tersusun dan terorganisir secara sistematis ibarat acara yang telah di lakukan seorang konselor sekarang.
Di Indonesia sendiri munculnya Bimbingan Konseling Islam terbentuk melalui 3 tahapan; pertama, dari Seminar Nasional Bimbingan dan Konseling Islam I. kedua, dari Seminar dan Lokakarya Nasional Bimbingan dan Konseling Islami II dan yang ketiga dari Symposium Psikologi Islami.
1. Dari seminar nasional bimbingan dan konseling islami I
Seiring perkembangan zaman maka mau tidak mau maka banyak sekali persoalan dan problem akan semakin berat hal tersebut bahwasanya telah dirasakan serta di antisipasi oleh para pakar Indonesia semenjak awal tahun 1980-an. Oleh jadinya para andal Bimbingan di Indonesia bersama dengan banyak sekali macam kalangan psikolog, dokter, ulama, dan para andal lain dalam banyak sekali disiplin keilmuanyang memiliki semangat tinggi untuk membantu menciptakan kesejahteraan masyarakat melalui adanya layanan Bimbingan Konseling. 
Dalam sebuah catatan di jelaskan, bahwa rintisan pertama dilakukan oleh Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta dengan mengadakan acara Seminar Nasional Bimbingan dan Konseling Islam I pada 15 – 16 Mei 1985. Dalam seminar tersebut mereka memiliki beberapa tujuan yang hendak mereka capai, tujuan tersebut antara lain; menemukan konsep-konsep, dasar-dasar BKI, menemukan metode BKI, dan terwujudnya insan pancasialis yang mampu bangun diatas kaki sendiri dalam eksistensinya sebagai Khalifah di muka bumi.
Dan dalam seminar tersbut memperoleh beberapa rumusan, pertama pengerrtian BKI; kedua, pembimbing (konselor) ialah individu yang memiliki kewenangan untuk melaksanakan BKI. Ketiga isi BK mencakup hal yang berkaitan dengan kebutuhan individu baik kebutuhan jasmani maupun rohani yang berorientasi kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. 
2. Dari Seminar dan Lokakarya Nasional Bimbingan dan Konseling Islami II
Seminar kedua pun di gelar di daerah yang sama ibarat halnya Seminar I di UII Yogyakarta tepatnya pada tanggal 15 – 17  Oktober 1987, yang mana dalam acara ini memperoleh beberapa catatan penting, bahwa layanan BKI bukan hanya bertumpu pada berupaya untuk membentuk mental yang sehat dan kedupan yang sejahtera namun lebih dari hal itu, BKI berusaha menuntun mereka pada kehidupan yang sakinah, batin yang merasa hening dan tentram alasannya ialah kedekatannya dengan Rabb-nya.
Dalam seminar kedua pun telah melahikan beberapa rumusan yakni; wacana di bedakannya antara pengertian Bimbingan dan Konseling Islami, tujuan, ruang lingkup, instruksi etik, beberapa prinsip dasar (asas) yang menjadi landasan filosofis dan operasional BKI. 
Seminar dan Lokakarya BKI II juga telah berhasil merumuskan beberapa konsep dasar BKI dalam bidang pernikahan, pendidikan, pekerjaan, sosial kemasyarakatan dan bidang keagamaan. Dan juga telah terbentuk sebuah organisasi pembimbing islami yang diberi nama PERHIMPUNAN PEMBIMBING INDONESIA (PPII), dengan status di bawah Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI) yang dalam perkembangannya berubah nama menjadi ABKIN. Anggota PPII ini terdiri dari pembimbing, petugas BP di Sekolah, sosiolog, dokter, guru agama, ulama/mubalig, dll. Dengan syaat khusus yakni mereka harus beragama islma, dan sifat keanggotaan pun aktif yang berarti berminat menjadi anggota dan mendaftarkan diri. 
Seorang Konselor islami yang professional dan terampil harus pula mempunyai dua hal; pertama, pengetahuan wacana bimbingan dan konseling secara umum, kedua, pengetahuan agama Islam secara mendalam.
3. Dari Simposium Psikologi Islami
Setelah beberapa tahun terhenti di karenakan sekjen PPII menerima petaka terowongan Mina maka munculah upaya gres dengan terselenggaranya acara Simposium Psikologi Islami yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Surakarta pada tanggal 11 – 13 Maret 1994. Kertas kerja dalam acara ini kemudian di bukukan oleh M. Thoyibi dan M. Ngemron dengan judul “Psikologi Islaam”, yang diterbitkan oleh Muhmmadiyah University Press tahun 1994.
Behaviorisme yaitu suatu pandangan ilmiah perihal tingkah laku manusia. Dalil dasarnya yaitu bahwa tingkah laku itu tertib dan bahwa eksperimen yang dikendalikan dengan cermat akan menyingkapkan hukum-hukum yang mengendalikan tingkah laku. Behaviorisme ditandai oleh sikap membatasi metode-metode dan prosedur prosedur pada data yang dapat diamati.

Pendekatan behavioristik tidak menguraikan asumsi-asumsi filosofis perihal insan secara langsung. Setiap orang dipandang memiliki kecenderungan-kecenderungan positif dan negatif yang sama. Manusia pada dasarnya dibentuk dan ditentukan oleh lingkungan sosial dan budayanya. Segenap tingkah laku insan itu dipelajari. Meskipun berkeyakinan bahwa segenap tingkah laku pada dasarnya merupakan hasil dari kekuatan-kekuatan lingkungan dan faktor-faktor genetik, para behavioris memasukkan pembuatan putusan sebagai salah satu bentuk tingkah laku. Pandangan para behavioris perihal insan sering kali didistorsi oleh penguraian yang terlampau menyederhanakan perihal individu sebagai bidak nasib yang tak berdaya semata-mata ditentukan oleh pengaruh-pengaruh lingkungan dan keturunan dan dikerdilkan menjadi sekedar organisme pemberi respons. Terapi tingkah laku kontemporer bukanlah suatu pendekatan yang sepenuhnya deterministik dan mekanistik, yang menyingkirkan potensi para klien untuk memilih. Hanya para “behavioris yang radikal” yang menyingkirkan kemungkinan menentukan diri dari individu.
Nye (1975) dalam pembahasannya perihal behaviorisme radikal-nya B.F. Skinner, menyebutkan bahwa para behavioris radikal menekankan insan sebagai dikendalikan oleh kondisi-kondisi lingkungan. Pendirian deterministik mereka yang besar lengan berkuasa berkaitan erat dengan janji terhadap pencarian pola-pola tingkah laku yang dapat diamati. Mereka menjabarkan melalu rincian spesifik aneka macam faktor yang dapat diamati yang menghipnotis berguru serta membuat argumen bahwa insan dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan eksternal.
Pandangan “behaviorisme radikal” tidak memberi daerah kepada asumsi yang menyebutkan bahwa tingkah laku insan dipengaruhi oleh pilihan dari kebebasan. Filsafat behavioristik radikal menolak konsep perihal individu sebagai distributor bebas yang membentuk nasibnya sendiri. Situasi-situasi dalam dunia objektif masa lampau dan hari ini menentukan tingkah laku. Lingkungan yaitu pembentuk utama keberadaaan manusia.
John Watson, pendiri behaviorisme, yaitu seorang behavioris radikal yang pernah menyatakan bahwa ia mampu mengambil sejumlah bayi yang sehat dan menyebabkan bayi-bayi itu apa saja yang diinginkannya dokter, andal hukum, seniman, perampok, pencopet, melalui bentukan lingkungan. Jadi, Watson menyingkirkan dari psikologi konsep-konsep ibarat kesadaran, determinasi diri, dan aneka macam fenomena subjektif lainnya. Ia mendirikan suatu psikologi perihal kondisi-kondisi tingkah laku yang dapat diamati. Marquiz (1974) menyatakan bahwa terapi tingkah laku itu ibarat keahlian teknik dalam arti ia menerapkan informasi-informasi ilmiah guna menemukan pemecahan-pemecahan teknis atas maslah-masalah manusia. Jadi, behaviorisme berfokus pada bagaimana orang-orang berguru dan kondisi-kondisi apa saja yang menentukan tingkah laku mereka.

Skinner bekerja dengan tiga asumsi dasar, dimana asumsi pertama dan kedua pada dasarnya menjadi psikologi pada umumnya, bahkan menjadi asumsi semua pendekatan ilmiah:

1. Tingkah laku itu mengikuti hukum tertentu (Behavior is lawful). Ilmu yaitu usaha untuk menemukan keteraturan, memperlihatkan bahwa peristiwa tertentu berafiliasi secara teratur dengan peristiwa lain. 
Tingkah laku merupakan hasil pengaruh timbal balik dari variable-variabel tertentu yang dapat diidentifikasikan, yang sepenuhnya menentukan tingkah laku. Tingkah laku individu seluruhnya merupakan hasil dari dunia objektif. 
Asumsi bahwa seluruh tingkah laku berjalan menurut hukum terperinci mengandung implikasi perihal kemungkinan mengontrol tingkah laku. Skinner tidak banyak tertarik pada aspek-aspek tingkah laku yang sangat sukar berubah, misalnya aspek-aspek tingkah laku yang terutama dikuasai oleh warisan hereditas. 
2. Tingkah laku dapat diramalkan (Behavior can be predicted). Ilmu bukan hanya menjelaskan tetapi juga meramalkan. Bukan hanya mengenai peristiwa masa lalu tetapi juga masa yang akan datang. Teori yang berdaya guna yaitu yang memungkinkan dapat dilakukannya prediksi mengenai tingkah laku yang akan datang dan menguji prediksi itu. 
3. Tingkah laku dapat dikontrol (Behavior can be controlled). Ilmu dapat melaksanakan antisipasi dan menentukan/membentuk tingkah laku seseorang. Skinner bukan hanya ingin tau bagaimana terjadinya tingkah laku, tetapi Skinner sangat berkeinginan memanipulasinya. 
Skinner menganggap kemampuan memanipulasi kehidupan dan tingkah laku manusia-keberhasilan mengontrol kejadian atau tingkah laku insan merupakan bukti kebenaran suatu teori. Lebih penting lagi tingkah laku insan harus dikontrol karena Skinner yakin insan telah merusak dunia yang di tinggalkannya dengan memakai ilmu dan teknologi dalam memecahkan masalahnya.
Skinner memahami dan mengontrol tingkah laku memakai teknik analisis fungsional tingkah laku (functional analysis of behavior): suatu analisis tingkah laku dalam bentuk korelasi karena akibat, bagaimana suatu respon timbul mengikuti stimulus atau kondisi tertentu. Menurutnya analisis fungsional akan menyingkap bahwa penyebab terjadinya tingkah laku sebagaian besar berada di event antesedennya atau berada di lingkungan. Skinner yakin bahwa tingkah laku dapat diterangkan dan dikontrolkan semata-mata dengan memanipulasi lingkungan dimana organisme yang bertingkah laku itu berada.
Menurut Dra. Retno Tri Hariastuti, M.Pd.,kons layanan bimbingan konseling ialah suatu kegiatan bimbingan konseling yang dilakukan melalui kontak pribadi dengan sasaran layanan ( klien/ penerima didik ), dan secara pribadi berkenaan dengan permasalahan ataupun kepentingan tertentu yang dirasakan oleh sasaran layanan tersebut. Kegiatan yang merupakan layanan bimbingan konseling mengemban fungsi tertentu dan pemenuhan fungsi tersebut dibutuhkan dapat dirasakan oleh sasaran layanan secara langsung.

Suatu model gres dalam ranah bimbingan konseling yang memiliki implementasi baik terhadap tujuan yang ingin dicapai, yakni Bimbingan Konseling komprehensif. Makna Komprehensif dalam KBBI ialah meiliki wawasan yang luas serta bisa mendapatkan dengan baik. Kaprikornus BK Komprehensif merupakan suatu alternatif model bimbingan konseling yang menggabungkan subjek-subjek Bimbingan Konseling baik siswa, orang tua, guru dan staf manajemen serta seluruh anggota masyarakat untuk meningkatkan layanan bimbingan dan konseling di sekolah.

Program BK komprehensif ialah usaha kolaboratif yang bermanfaat bagi siswa, orang tua, guru, staf administrasi, dan seluruh anggota masyarakat. Model BK komprehensif memiliki karakteristik, yaitu:
1. Memiliki cakupan layanan yang komprehensif
2. Memiliki desain yang berlandaskan pada nilai-nilai preventif
3. Memiliki bentuk yang bersifat perkembangan
4. Berpusat pada siswa
5. Dilaksanakan secara kolaaboratif
6. Didukung oleh data 
Berdasarkan pada fungsi dan prinsip bimbingan, maka kerangka kerja layanan bimbingan dan konseling komprehensif dikembangkan dalam suatu aktivitas bimbingan dan konseling yang dijabarkan dalam empat kegiatan utama yaitu: 1) layanan dasar bimbingan, 2) layanan responsif, 3) layanan perencanaan individual, 4) dukungan system. 
1. Layanan Dasar Bimbingan
Layanan dasar bimbingan ialah layanan bimbingan yang bertujuan untuk membantu seluruh penerima didik berbagi prilaku efektif dan keterampilan-keteralmpilan hidupnya yang mengacu pada tugas-tugas perkembangan penerima didik. 
Layanan dasar bimbingan ini juga berisi layanan bimbingan belajar, bimbingan sosial, bimbingan pribasi dan bimbingan karir. Layanan ini ditujukan untuk seluruh penerima didik, disajikan atau dilunsurkan dengan menggunakan setrategi klasikal dan dinamika kelompok. 
2. Layanan Responsif
Layanan responsif ialah layanan bimbingan yang bertujuan untuk membantu memenuhi kebutuhan yang dirasakan sangat prnting oleh penerima didik ketika ini. Layanan ini lebih bersifat preventif atau mungkin kuratif. Setrategi yang digunakan ialah konseling individual, konseling kelompok, dan konsultasi. Isi layanan responsif adalah: 
a. Bidang Pendidikan.
b. Bidang Belajar.
c. Bidang Sosial.
d. Bidang Pribadi.
e. Bidang Karir.
f. Bidang Tata Tertib Sekolah.
g. Bidang Narkotika dan Perjudian.
h. Boidang Prilaku Seksual.
i. Bidang Kehidupan Lainnya.
3. Layanan Perencanaan Individual
Layanan perencanaan individual ialah layanan bimbingan yang bertujuan membantu seluruh penerima didik membuat dan mengimpelementasikan rencana-rencana pendidikan, karir, dan sosial pribadinya. Tuuan utama dari layanan ini ialah membantu penerima didik memantau dan memahami pertumbuhan dan perkembangan dirinya sendiri, kemudian merencanakan dan mengimplementasikan itu atas dasar hasil pemantauan dan pemahamannya pada dirinya itu. Setrategi pelaksanaannya ialah dengan konsultasi dan konseling. 
4. Dukungan Sistem
Dukungan system ialah kegiatan-kegiatan manajemen yang yang bertujuan untuk memantapkan, memelihara, dan meningkatkan aktivitas bimbingan secara menyeluruh melalui pengembangan professional, manajemen program, dan penelitian dan pengembangan.
Kegiatan utama dari kempeat layanan bimbigan dan konseling diatas dalam ilmplementasinya didukung dengan beberapa jenis layanan bimbingan dan konseling antara lain: a) layanan pengumpulan data, b) layanan informasi, c) layanan penempatan, d) layanan konseling, e) layana referral, f) layanan mediasi, dan g) layanan penilaian dan tindak lanjut.  
a. Layanan Pengumpulan Data
Layanan pengumpulan data ialah kegiatan berbentuk pengumpulan, pengolahan, dan penghimpunan banyak sekali isu wacana penerima didik beserta latar belakangnya guna memperoleh pemahaman yang objektif terhadap penerima didik dalam membantu mereka mencapai perkembangan yang optimal.
b. Layanan Informasi
Layanan isu yaitu pemberian sejumlah isu kepada penerima didik semoga penerima didik memiliki infirmasi yang memadai baik wacana dirinya maupun lingkungannya yang dapat memperlihatkan pertolongan dalam mengambil kepetusan secara tepat.
c. Layanan Penempatan
Layanan penempatan yaitu layanan untuk membantu penerima didik memperoleh wadah yang sesuai dengan potensi yang dimilikinya semoga bisa mencapai prestasi yang optimal.
d. Layanan Konseling
e. Layanan Referal
Layanan referral yaitu layanan untuk melimpahkan kepada pihak lain yang lebih bisa dan berwenag apabila dilema yang ditangani itu di luar kemampuan dan kewenangan konselor/guru pembimbing di sekolah.
f. Layanan Penilaian dan Tindak Lanjut.

Bimbingan dan konseling pola 17+ yaitu progam bimbingan dan konseling atau pemberian pemberian kepada penerima didik melalui 6 bidang bimbingan, 9 layanan, dan 6 layanan pendukung yang sesuai dengan norma yang berlaku.

1. Tujuan 
Secara umum tujuan pola bimbingan dan konseling 17+ yaitu menunjukkan arah kerja / sebagai pola dan evaluasi kerja bagi guru BK / konselor, membantu penerima didik mengenal bakat , minat , dan kemampuannya, serta memilih dan mengikuti keadaan dengan kesempatan, pendidikan, dan merencanakan karier yang sesuai dengan tuntutan kerja. 
2. Bidang Bimbingan
a. Bidang Bimbingan Pribadi
Bimbingan pribadi, membantu siswa menemukan dan  mengembangkan langsung yang beriman dan bertakwa kepada Yang Mahakuasa Yang Maha Esa, mantap dan berdikari serta sehat jasmani dan rohani. 
b. Bidang Bimbingan Sosial 
Bimbingan sosial, membantu siswa mengenal dan berafiliasi dengan lingkungan sosial yang dilandasi kebijaksanaan pekerti luhur, tanggung jawab kemasyarakatan dan kenegaraan.  
c. Bidang Bimbingan Belajar 
Dalam bidang bimbingan belajar, membantu siswa menyebarkan diri, sikap, dan kebiasaan berguru yang baik untuk menguasai pengetahuan dan keterampilan serta menyiapkannya melanjutkan pendidikan pada tingkat yang lebih tinggi.
d. Bidang Bimbingan Karier 
Bimbingan karir yaitu bimbingan dalam mempersiapkan diri menghadapi dunia pekerjaan, dalam memilih lapangan pekerjaan serta membekali diri dan dalam mengikuti keadaan dengan banyak sekali tuntutan dari lapangan pekerjaan yang telah dimasuki.
e. Bimbingan Kehidupan Beragama
Bimbingan kehidupan beragama yaitu pemberian yang diberikan kepada penerima didik semoga bisa menghadapi dan memecahkan masalah-masalah yang berkenaan dengan kehidupan beragama.
f. Bimbingan Kehidupan Berkeluarga
Bimbingan kehidupan berkeluarga yaitu bimbingan yang diberikan keada penerima didik dalam menghadapi dan memacahkan problem dalam kehidupan berkeluarga.  

3. Layanan dan Strategi 
a. Layanan Orientasi
Menurut Dewa Ketut Sukardi dalam bukunya Pengantar pelaksanaan aktivitas Bimbingan dan konseling di sekolah, layanan orientasi yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan penerima didik dan pihak-pihak lain yang menunjukkan pengaruh besar terhadap penerima didik (terutama orang tua) memahami lingkungan (seperti sekolah) yang gres dimasuki penerima didik untuk mempermudah dan memperlancar berperannya penerima didik di lingkungan yang baru.
b. Layanan Informasi
Menurut Winkel (1991) layanan gosip merupakan suatu layanan yang berupaya memenuhi kekurangan penerima didik akan gosip yang ia perlukan.
c. Layanan Penempatan dan Penyaluran
Yaitu layanan bimbingan yang ditujukan kepada siswa dengan berusaha mengelompokkan siswa kedalam suatu kelompok atau osisi tertentu yang sesuai dengan keadaan siswa, bakat, minat, dan keinginan hidupnya serta prestasi akademiknya sehingga siswa dapat memperoleh kesempatan untuk berkembang semaksimal mungkin.
d. Layanan Penguasaan Konten
Menurut Prayitno (2004) layanan penguasaan kontetn merupakan suatu layanan pemberian kepada individu (siswa) baik baik sendiri maupun dalam kelompok untuk menguasai kemampuan atau kompetensi tertentu melalui kegiatan belajar.
e. Layanan Konseling Perorangan
Layanan konseling perorangan yaitu layanan yang diberikan kepada klien dalam rangka pengentasan problem langsung klien.
f. Layanan Bimbingan Kelompok
Layanan bimbingan kelompok merupakan suatu cara menunjukkan pemberian (bimbingan) kepada penerima didik melalui kegiatan kelompok.
g. Layanan Konseling Kelompok
Layanan konseling kelompok yaitu layanan konseling yang memungkinkan siswa memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan yang dialaminya melalui dinamika kelompok.
h. Layanan Konsultasi
Layanan konsultasi merupakan layanan konseling yang dilaksanakan oleh konselor terhadap penerima didik yang memungkinkannya memperoleh wawasan, pemahaman, dan cara-cara yang perlu dilaksanakannya dalam menangani kondisi atau permasalahan pihak ketiga.
i. Layanan Mediasi
Menurut Prayitno, layanan mediasi merupakan layanan konseling yang dilaksanakan konselor terhadap dua pihak atau lebih yang sedang dalam keadaan saling tidak menemukan kecocokan. Dengan kata lain, layanan mediasi juga dapat diartikan layanan atau pemberian terhadap dua pihak atau lebih yang sedang berada dalam kondisi bermusuhan.
4. Kegiatan Pendukung 
a. Aplikasi instrumentasi, yaitu kegiatan pendukung berupa pengumpilan data dan keterangan perihal penerima didik dan lingkungan yang lebih luas yang dilakukan baik dengan tes maupun non tes.
b. Himpunan data, yaitu kegiatan untuk menghimpun seluruh data dan keterangan yang relevan dengan keperluan pengembangan penerima didik.
c. Konferensi kasus, yaitu kegiatan bimbingan dan konseling untuk membahas permaslahan yang dialami oleh penerima didik dalam suatu forum pertemuan yang dihadiri oleh banyak sekali pihak yang dibutuhkan dapat meberikan penyelesaian.
d. Kunjungan rumah, yaitu kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh data, keterangan, kemudahan, dan komitmen bagi pemecaha problem yang dialami penerima didik melalui kunjungan rumahnya.
e. Alih tangan kasus, yakni kegiatan pendukung bimbingan dan konseling yang bertujuan untuk menerima penanganan yang lebih sempurna dan tuntas atas problem yang dialami siswa dengan memindahkan penanganan kasus dari satu pihak ke pihak lain yang lebih ahli.
f. Terapi kepustakaan, yaitu kegiatan pemecahan problem dengan buku.