Kata “phobia” sendiri berasal dari istilah Yunani “phobos” yang berarti lari (fight), takut dan panik (panic-fear), takut hebat (terror). Istilah ini memang dipakai semenjak zaman Hippocrates. Phobia yaitu ketakutan yang luar biasa dan tanpa alasan terhadap sebuah obyek atau situasi yang tidak masuk akal. Pengidap phobia merasa tidak nyaman dan menghindari objek yang ditakutinya. Terkadang juga mampu menghambat aktivitasnya .

Konsep takut dan cemas betautan erat. Takut yaitu perasaan cemas dan agitasi sebagai respons terhadap suatu ancaman. Gangguan fobia yaitu rasa takut yang persisten terhadap objek atau situasi dan rasa takut ini tidak sebanding dengan ancamannya . Penyakit Ketakutan (Fobia) yaitu kecemasan yang luar biasa, terus menerus dan tidak realistis, sebagai respon terhadap keadaan eksternal tertentu .
Definisi phobia menurut kamus psikologi yaitu suatu ketakutan yang kuat, terus menerus dan irasional dengan ditimbulkan oleh suatu perangsang atau situasi khusus, menyerupai auatu ketakutan yang asing terhadap kawasan tertentu. Sementara kartini kartono (1989:112) mendefinisikan phobia sebagai ketakutan atau kecemasan yang abnormal, tidak rasional tidak mampu dikontrol terhadap suatu situasi terhadap objek tertentu. Semua phobia yaitu ketajutan yang tak beralasan, yang bertalian dengan perasaan bersalah atau pun malu, ditekan. Kemudian berubah takut pada suatu yang lain, dengan begitu terpendamlah konflik atau frustasi yang dialaminya.    Jadi phobia yaitu rasa takut yang berlebihan kepada suatu hal atau fenomena yang membuat hidup seseorang yang menderitanya terhambat .
Beberapa pendapat hebat yang mendefinisikan fobia yaitu Jaspers (1923) mendefinisikan fobia sebagai rasa takut yang sangat dnan tidak dapat diatasi terhadap suatu keadaan dan peran yang biasa. Ross (1937) berpendapat bahwa fobia yaitu rasa takut yang khas yang disadari oleh penderita sebagai suatu hal yang tidak masuk akal, tetapi tidak dapat mengatasinya. Errera (1962)  adalah rasa takut yang selalu ada terhadap sesuatu benda atau pendapat yang dalam keadaan biasa tidak menjadikan rasa takut .
Hal yang aneh wacana fobia yaitu biasanya melibatkan ketakutan terhadap peristiwa yang biasa dalam hidup, bukan yang luar biasa. Orang dengan fobia mengalami ketakutan untuk hal-hal yang amat biasa, menyerupai naik elevator atau naik kendaraan beroda empat di jalan raya. Dengan referensi ini, dapat diketahui bahwa fobia dapat mengganggu kalau berkaitan dengan pekerjaan sehari-hari menyerupai naik kendaraan, berbelanja, atau pergi keluar rumah. Berikut ini yaitu tiga tipe fobia berdasarkan sistem DSM, yaitu fobia spesifik, fobia sosial, dan agorafobia.
1. Fobia Spesifik
Fobia spesifik yaitu adanya rasa takut yang besar lengan berkuasa dan menetap akan suatu objek atau situasi . Beberapa subtipe fobia spesifik:
a) Animal Type. Subtipe ini ditandai dengan adanya ketakutan terhadap binatang atau serangga. Subtipe ini umumnya mempunyai onset masa kecil.
b) Natural Environment Type. Subtipe ini ditandai dengan adanya ketakutan terhadap objek – objek dalam lingkungan alami, menyerupai : badai, ketinggian, atau air. Subtipe ini mempunyai onset masa kecil.
c) Blood-Injection-Injury Type. Subtipe ini ditandai dengan adanya ketakutan melihat darah, cedera, mendapatkan injeksi ataupun segala prosedur medis. Subtipe ini sering dijumpai dan karakteristiknya yaitu adanya respon vasovagal.
d) Situational Type. subtype ini ditandai dengan adanya ketakutan terhadap situasi tertentu seperti: transportasi umum, lorong, jembatan, elevator, pesawat terbang, berkendara, atau kawasan tertutup. Subtipe ini mempunyai dua onset, onset pertama pada waktu kecil dan yang kedua pada pertengahan umur 20-an.
e) Other Type. Subtipe ini ditandai dengan ketakutan terhadap stimulasi yang lain. Stimulus dapat berupa ketakutan dikala tersedak, muntah, menderita penyakit, “space” fobia ( seseorang yang takut jatuh dikala berada jauh dari dinding atau sesuatu yang mempertahankan dirinya), anak – anak takut terhadap bunyi yang keras atau abjad berkostum .
Fobia spesifik merupakan ketakutan yang berlebihan dan persisten terhadap objek atau situasi spesifik, seperti:
Acrophobia: takut terhadap ketinggian, bahkan hanya setinggi 2 meter sudah cukup menyeramkan bagi penderita fobia ini.
Claustrophobia: takut terhadap kawasan tertutup/terkunci sehingga orang dengan fobia jenis ini sering berada di taman atau di lapangan olahraga bersama teman-temannya.
Fobia binatang: takut terhadap binatang tertentu menyerupai tikus, ular, atau binatang-binatang menjijikkan.Anda mampu saja mempunyai ketakutan terhadap hewan-hewan tersebut. Namun, kalau ketakutan itu mengganggu kehidupan sehari-hari atau menyebabkan distres emosional yang signifikan di dalam diri Anda (bahkan dikala Anda hanya membayangkan hewan itu), maka barulah Anda mengalami fobia.
Fobia benda-benda tertentu: menyerupai jarum suntik (bukan sakitnya yang mereka takuti, tetapi jarumnya), pisau, benda-benda elektronik, atau benda-benda lain.
2. Fobia Sosial
Fobia sosial yaitu ketakutan yang intens terhadap situasi sosial atau ramai sehingga mereka mungkin sama sekali menghindarinya, atau menghadapinya tetapi dengan distres yang amat berkecamuk. Penderita fobia sosial mengalami ketakutan terhadap situasi sosial menyerupai berkencan, datang ke pesta, pertemuan-pertemuan sosial, bahkan presentasi untuk ujian.  Fobia sosial yang mendasar yaitu ketakutan berlebihan terhadap evaluasi negatif dari orang lain, dalam artian mereka takut dinilai jelek oleh orang lain. Mungkin mereka merasa seolah-olah ribuan pasang mata sedang memperhatikan dengan teliti setiap gerak yang mereka lakukan. Contoh umum untuk fobia jenis ini adalah:
Demam panggung yang berlebihan
Kecemasan berbicara di forum yang berlebihan, bahkan dihadapan orang-orang terdekat sekalipun.
Kecemasan meminta sesuatu, menyerupai memesan makanan di rumah makan alasannya yaitu takut pelayan atau sahabat menertawai makanan yang mereka pesan.
Ketakutan bertemu dengan orang baru, hal ini menyebabkan penderita tidak berkembang dalam hal sosial.
Fobia jenis ini menyebabkan penurunan kualitas hidup penderitanya, menyerupai kualitas untuk mencapai sasaran pendidikan , maju dalam karier, atau bertahan dalam pekerjaan yang membutuhkan interaksi dengan orang lain secara langsung.Sekali fobia sosial tercipta, maka akan berlanjut secara kronis sepanjang hidup.
3. Agorafobia
Agorafobia secara harfiah diartikan sebagai “takut kepada pasar”, yang sugestif untuk ketakutan berada di tempat-tempat terbuka dan ramai (berbeda dengan fobia sosial, agorafobia tidak “mati sosial” kalau berinteraksi dengan orang-orang di kawasan yang sepi).
Agorafobia melibatkan ketakutan terhadap tempat-tempat atau situasi-situasi yang memberi kesulitan bagi mereka untuk meminta tunjangan dikala ada suatu dilema yang menimpa mereka atau orang lain. Orang-orang dengan agorafobia takut untuk pergi berbelanja di toko-toko yang penih sesak, bersempit-sempitan di bus, dan lain-lain yang kira-kira membuat mereka sulit meminta pertolongan .
Sebagian besar teori Skinner ialah ihwal perubahan tingkah laku, belajar, dan modifikasi tingkah laku, karena itu dapat dikatakan bahwa teorinya yang paling relevan dengan perkembangan kepribadian. Bersama dengan banyak teoritikus, Skinner yakin bahwa pemahaman ihwal kepribadian akan tumbuh dari tinjauan ihwal perkembangan tingkah laku insan dalam interaksinya yang terus menerus dengan lingkungan. Konsep kunci dalam sistem Skinner ialah prinsip perkuatan, maka pandangan Skinner seringkali disebut teori perkuatan operan.

Konsep perkembangan kepribadian dalam pengertian menuju kemasakan, realisasi diri, transendensi dan unitas kepribadian tidak diterima Skinner. Memang ada kemasakan fisik, yang membuat orang menjadi berubah, lebih peka dalam mendapatkan stimulus dan lebih tangkas dan tanggap dalam merespon. Urutan kemasakan fungsi fisik yang bersifat universal sebetulnya memungkinkan penyusunan periodesasi perkembangan kepribadian, namun tidak dilakukan Skinner karena ia memandang pengaruh eksternal lebih secara umum dikuasai dalam membentuk tingkah laku.  Peran lingkungan yang secara umum dikuasai dalam perkembangan oraganisme, digambarkan secara ekstrim oleh Watson sebagai pakar behavioris. 
Keistimewaan kelompok respon ini menimbulkan Skinner memakai istilah “operan”. Operan ialah respon yang beroperasi pada lingkungan dan mengubahnya. Perubahan dalam lingkungan selanjutnya mensugesti terjadinya respon tersebut pada kesempatan berikutnya. Skinner menyatakan dengan penuh keyakinan bahwa kepribadian tidak lain ialah kumpulan teladan tingkah laku, Skinner yakin kita dapat memprediksikan, mengontrol, dan menjelaskan perkembangan-perkembangan ini dengan melihat bagaimana prinsip perkuatan bisa menjelaskan tingkah laku individu pada dikala ini sebagai akhir dari perkuatan tahap respon-responnya dimasa lalu. Jadwal perkuatan juga dapat dibentuk dengan mengabaikan faktor waktu dan banyaknya hadiah yang diperoleh itu semata-mata tergantung pada tingkah lakunya sendiri.
Skinner yakin bahwa pemerkuat-pemerkuat terkondisi atau pemerkuat-pemerkuat sekunder sangat penting untuk mengontrol tingkah laku manusia. Perkuatan terkondisi merupakan suatu konsep eksplanatorik atau penjelasan yang sangat bisa diandalkan. Jadi, pengertian ihwal perkuatan terkondisi ialah penting dalam sistem Skinner, dan menyerupai akan kita liat bahwa Skinner menggunakannya secara efektif untuk menjelaskan dipertahankan atau terpelihara banyak respon yang terjadi sebagai bab dari tingkah laku sosial kita.
Pengertian ihwal Generalisasi stimulus juga penting dalam sistem Skinner, sebagaimana pengertian itu penting dalam semua teori kepribadian yang berasal dari belajar. Skinner tidak merumuskan generalisasi stimulus maupun deskriminasi stimulus dalam arti proses perseptual atau proses internal lainnya. Skinner merumuskan masing-masing konsep itu sebagai hasil-hasil pengukuran respon dalam situasi eksperimental yang dikontrol secara cermat. Kebanyakan aspek kepribadian muncul dalam suatu konteks sosial, dan tingkah laku sosial merupakan ciri penting tingkah laku insan pada umumnya. Satu-satunya ciri tingkah laku sosial ialah fakta bahwa Skinner melibatkan interaksi antara dua orang atau lebih. Selain itu, tingkah laku sosial tidak dipandang berbeda dari tingkah laku lainya, karena Skinner yakin bahwa prinsip-prinsip yang menentukan perkembangan tingkah laku dalam suatu lingkungan yang terdiri dari benda-benda hidup.

Sebelum kita mengetahui tipe-tipe kepribadian hendaknya mengetahui apa itu kepribadian. Menurut Pervin (2000) :

“Personality represent those characteristic of the person that account for consistent pattern of feeling, thinking and behaving.”
Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa kepribadian merupakan penentu karakteristik dari seseorang yang menentukan bagaimana ia merasa berfikir dan bertingkah laku.
Dalam dunia psikologi, dikenal yang namanya 4 tipe kepribadian yaitu: Sanguinis, Melankolis, Koleris & Plegmatis, atau ada juga yang pribadi mengategorikannya sesuai dengan sifat mayoritas masing-masing tipe, yaitu: Sanguinis Populer, Melankolis Sempurna, Koleris Kuat & Plegmatis Damai.
1. Tipe Sanguinis
Tipe kepribadian ini dikatakan pula “Populer” dan “Pembicara”. Adalah tipe yang sangat bersemangat, terlihat selalu tampak ceria, pergaulannya yang hangat dan sangat menikmati kehidupannya (walau dalam kondisi apapun).
Ciri lainnya dari tipe sanguinis ini, dikala harus mengambil satu keputuan cenderung lebih mendasarkan perasaan daripada pemikirannya, serta selalu mencari kesenangan, tidak suka membiarkan hatinya terlarut dalam kesedihan.
Gaya tersendiri dalam bicaranya bersuara keras dan ramah membuatnya tampak percaya diri lebih daripada yang sebenarnya, sangat cerdik menularkan peasaan semangat kepada orang lain.
Tipikal orang Sanguinis merupakan pribadi yang menyenangkan jadi tidak salah kalau banyak orang yang menyukainya (walau kadang ada yang tidak suka alasannya yaitu cerewetnya. Dia ingin merasa dirinya dikenal banyak orang, ide-idenya kreatif dan inovatif mirip ide-ide orang sukses, ingin dirinya isu terkini setter biar orang lain mengikuti jejaknya.
2. Melankolis
Tipe kepribadian ini dikatakan pula “Pemikir” dan “Sempurna”. Adalah tipe insan yang dalam pergaulannya itu bersifat tempramen, memiliki rasa seni yang tinggi, akurasi pikirannya lebih akurat, terkadang sangat sensitif, bakatnya menonjol, dan ia rela berkorban demi apapun yang dibelanya.
Kepribadian perfeksionis, suka menyalahkan dirinya sendiri yang terkadang menjadi rendah diri. Manusia yang mempunyai tipe kepribadian ini lebih mengedepankan perasaan ketimbang yang lainnya. Ia yaitu orang yang introvert tapi apabila ia sedang berada dalam puncak suka citanya, ia bisa saja menjadi lebih extrovert. Akurasi analitisnya terkadang bisa memperhitungkan bahaya, halangan, atau bahkan kerugian yang mungkin dapat menimpa dalam setiap proyek. Tetapi alasannya yaitu tipe orang ini perasaannya sangat peka dan sensitif dapat membuat mereka menjadi pendendam dan sering terlihat murung. Orang melankolis cenderung memilih pekerjaaan yang membutuhkan pengorbanan dan ketekunan, sekali ia memilih sesuatu maka ia akan tetap setia mengerjakannya.
Tipe Melankolis ini dikatakan pribadi yang cerdas alasannya yaitu selalu memikirkan langkah apa yang akan diambil dalam problem solving/ memecahkan masalah. Walau terkadang terlalu lama dalam mengambil keputusan alasannya yaitu ia selalu memikirkannya matang-matang biar ia menerima segala sesuatunya itu sempurna. Melankolis ini seorang sahabat yang setia, tidak suka menghianati teman. Dan juga ia ini menyerupai orang yang suka bekerja dibalik layar, tidak terlalu ingin dirinya menjadi sentra perhatian.
3. Koleris
Tipe kepribadian ini dikatakan pula “Kuat” dan “Pelaku”. Adalah tipe insan yang sangat ambisius, mempunyai kemampuan berpengaruh dalam menggapai sesuatu  yang diinginkannya. Cirinya terlihat berapi-api, aktif, praktis, cekatan, berdikari dan independen.  
Gayanya bersikap tegas dan berpendirian keras dalam mengambil keputusan bagi dirinya sendiri dan orang lain. Tidak terpengaruh oleh lingkungan, terkadang justru ia mensugesti lingkungannya. Ide-idenya, rancangan, sasaran, dan ambisinya tidak pernah berakhir. Pantang mengalah terhadap tekanan.
Kelemahan dari seorang koleris yaitu emosinya, ia mempunyai tempramen yang meledak-ledak. Ia tidak mudah bersimpati kepada orang lain. Ia bukan orang yang dengan mudah mengekspresikan perasaannya kepada orang lain. Ia cnderung tidak peka terhadap kebutuhan orang lain. Ia cenderung bersifat mayoritas dan memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat.
Tipikal Koleris yaitu tipe orang yang berjiwa pemimpin, menyadari kesalahannya dan kemudian memperbaiki kesalahannya, punya kemauan berpengaruh untuk meraih sesuatu yang diinginkan, biasanya aktif dalam suatu kegiatan, orang sibuk, menargetkan apa yang akan dicapai.
4. Phlegmatis
Tipe kepribadian ini dikatakan pula “Damai” dan “Pengamat”. Adalah tipe insan yang memiliki sifat alamiah pendamai, tidak suka kekerasan. Merupakan orang yang mudah diajak bergaul, ramah dan menyenangkan. Ia yaitu tipe orang yang bisa membuat sekelompok orang tertawa terbahak-bahak oleh humor-humor keingnya meski ia sendiri tidak tertawa.
Merupakan pribadi sangat konsisten, tenang dan jarang sekali terpengaruh dengan lingkungannya, tidak pernah terlihat gelisah. Dibalik pribadinya yang hambar dan malu-malu. Sesungguhnya ia memiliki kemampuan untuk dapat lebih mencicipi emosi yang terkandung pada sesuatu. Karena sifatnya yang menyukai kedamaian dan tidak menyukai pertikaian, ia cenderung menarik diri dari segala macam keterlibatan. Hal inilah yang sering kali menghambatnya untuk menyampaikan kemampuannya secara total dan menjadi cenderung pasif dan pemalas. 
Tipe orang Phlegmatis merupakan pribadi yang tabah dan senang menghadapi masalah, emosinya tidak meluap-luap dikala ia bahagia atau sedih, pendiam, bisa bekerja dalam tekanan, tidak suka pertengkaran, hati-hati dalam berucap kepada orang lain, menyenangkan

Kata “phobia” sendiri berasal dari istilah Yunani “phobos” yang berarti lari (fight), takut dan panik (panic-fear), takut hebat (terror). Istilah ini memang dipakai semenjak zaman Hippocrates. Phobia yaitu ketakutan yang luar biasa dan tanpa alasan terhadap sebuah obyek atau situasi yang tidak masuk akal. Pengidap phobia merasa tidak nyaman dan menghindari objek yang ditakutinya. Terkadang juga mampu menghambat aktivitasnya .

Konsep takut dan cemas betautan erat. Takut yaitu perasaan cemas dan agitasi sebagai respons terhadap suatu ancaman. Gangguan fobia yaitu rasa takut yang persisten terhadap objek atau situasi dan rasa takut ini tidak sebanding dengan ancamannya . Penyakit Ketakutan (Fobia) yaitu kecemasan yang luar biasa, terus menerus dan tidak realistis, sebagai respon terhadap keadaan eksternal tertentu .
Definisi phobia menurut kamus psikologi yaitu suatu ketakutan yang kuat, terus menerus dan irasional dengan ditimbulkan oleh suatu perangsang atau situasi khusus, menyerupai auatu ketakutan yang asing terhadap kawasan tertentu. Sementara kartini kartono (1989:112) mendefinisikan phobia sebagai ketakutan atau kecemasan yang abnormal, tidak rasional tidak mampu dikontrol terhadap suatu situasi terhadap objek tertentu. Semua phobia yaitu ketajutan yang tak beralasan, yang bertalian dengan perasaan bersalah atau pun malu, ditekan. Kemudian berubah takut pada suatu yang lain, dengan begitu terpendamlah konflik atau frustasi yang dialaminya.    Jadi phobia yaitu rasa takut yang berlebihan kepada suatu hal atau fenomena yang membuat hidup seseorang yang menderitanya terhambat .
Beberapa pendapat hebat yang mendefinisikan fobia yaitu Jaspers (1923) mendefinisikan fobia sebagai rasa takut yang sangat dnan tidak dapat diatasi terhadap suatu keadaan dan peran yang biasa. Ross (1937) berpendapat bahwa fobia yaitu rasa takut yang khas yang disadari oleh penderita sebagai suatu hal yang tidak masuk akal, tetapi tidak dapat mengatasinya. Errera (1962)  adalah rasa takut yang selalu ada terhadap sesuatu benda atau pendapat yang dalam keadaan biasa tidak menjadikan rasa takut .
Hal yang aneh wacana fobia yaitu biasanya melibatkan ketakutan terhadap peristiwa yang biasa dalam hidup, bukan yang luar biasa. Orang dengan fobia mengalami ketakutan untuk hal-hal yang amat biasa, menyerupai naik elevator atau naik kendaraan beroda empat di jalan raya. Dengan referensi ini, dapat diketahui bahwa fobia dapat mengganggu kalau berkaitan dengan pekerjaan sehari-hari menyerupai naik kendaraan, berbelanja, atau pergi keluar rumah. Berikut ini yaitu tiga tipe fobia berdasarkan sistem DSM, yaitu fobia spesifik, fobia sosial, dan agorafobia.
1. Fobia Spesifik
Fobia spesifik yaitu adanya rasa takut yang besar lengan berkuasa dan menetap akan suatu objek atau situasi . Beberapa subtipe fobia spesifik:
a) Animal Type. Subtipe ini ditandai dengan adanya ketakutan terhadap binatang atau serangga. Subtipe ini umumnya mempunyai onset masa kecil.
b) Natural Environment Type. Subtipe ini ditandai dengan adanya ketakutan terhadap objek – objek dalam lingkungan alami, menyerupai : badai, ketinggian, atau air. Subtipe ini mempunyai onset masa kecil.
c) Blood-Injection-Injury Type. Subtipe ini ditandai dengan adanya ketakutan melihat darah, cedera, mendapatkan injeksi ataupun segala prosedur medis. Subtipe ini sering dijumpai dan karakteristiknya yaitu adanya respon vasovagal.
d) Situational Type. subtype ini ditandai dengan adanya ketakutan terhadap situasi tertentu seperti: transportasi umum, lorong, jembatan, elevator, pesawat terbang, berkendara, atau kawasan tertutup. Subtipe ini mempunyai dua onset, onset pertama pada waktu kecil dan yang kedua pada pertengahan umur 20-an.
e) Other Type. Subtipe ini ditandai dengan ketakutan terhadap stimulasi yang lain. Stimulus dapat berupa ketakutan dikala tersedak, muntah, menderita penyakit, “space” fobia ( seseorang yang takut jatuh dikala berada jauh dari dinding atau sesuatu yang mempertahankan dirinya), anak – anak takut terhadap bunyi yang keras atau abjad berkostum .
Fobia spesifik merupakan ketakutan yang berlebihan dan persisten terhadap objek atau situasi spesifik, seperti:
Acrophobia: takut terhadap ketinggian, bahkan hanya setinggi 2 meter sudah cukup menyeramkan bagi penderita fobia ini.
Claustrophobia: takut terhadap kawasan tertutup/terkunci sehingga orang dengan fobia jenis ini sering berada di taman atau di lapangan olahraga bersama teman-temannya.
Fobia binatang: takut terhadap binatang tertentu menyerupai tikus, ular, atau binatang-binatang menjijikkan.Anda mampu saja mempunyai ketakutan terhadap hewan-hewan tersebut. Namun, kalau ketakutan itu mengganggu kehidupan sehari-hari atau menyebabkan distres emosional yang signifikan di dalam diri Anda (bahkan dikala Anda hanya membayangkan hewan itu), maka barulah Anda mengalami fobia.
Fobia benda-benda tertentu: menyerupai jarum suntik (bukan sakitnya yang mereka takuti, tetapi jarumnya), pisau, benda-benda elektronik, atau benda-benda lain.
2. Fobia Sosial
Fobia sosial yaitu ketakutan yang intens terhadap situasi sosial atau ramai sehingga mereka mungkin sama sekali menghindarinya, atau menghadapinya tetapi dengan distres yang amat berkecamuk. Penderita fobia sosial mengalami ketakutan terhadap situasi sosial menyerupai berkencan, datang ke pesta, pertemuan-pertemuan sosial, bahkan presentasi untuk ujian.  Fobia sosial yang mendasar yaitu ketakutan berlebihan terhadap evaluasi negatif dari orang lain, dalam artian mereka takut dinilai jelek oleh orang lain. Mungkin mereka merasa seolah-olah ribuan pasang mata sedang memperhatikan dengan teliti setiap gerak yang mereka lakukan. Contoh umum untuk fobia jenis ini adalah:
Demam panggung yang berlebihan
Kecemasan berbicara di forum yang berlebihan, bahkan dihadapan orang-orang terdekat sekalipun.
Kecemasan meminta sesuatu, menyerupai memesan makanan di rumah makan alasannya yaitu takut pelayan atau sahabat menertawai makanan yang mereka pesan.
Ketakutan bertemu dengan orang baru, hal ini menyebabkan penderita tidak berkembang dalam hal sosial.
Fobia jenis ini menyebabkan penurunan kualitas hidup penderitanya, menyerupai kualitas untuk mencapai sasaran pendidikan , maju dalam karier, atau bertahan dalam pekerjaan yang membutuhkan interaksi dengan orang lain secara langsung.Sekali fobia sosial tercipta, maka akan berlanjut secara kronis sepanjang hidup.
3. Agorafobia
Agorafobia secara harfiah diartikan sebagai “takut kepada pasar”, yang sugestif untuk ketakutan berada di tempat-tempat terbuka dan ramai (berbeda dengan fobia sosial, agorafobia tidak “mati sosial” kalau berinteraksi dengan orang-orang di kawasan yang sepi).
Agorafobia melibatkan ketakutan terhadap tempat-tempat atau situasi-situasi yang memberi kesulitan bagi mereka untuk meminta tunjangan dikala ada suatu dilema yang menimpa mereka atau orang lain. Orang-orang dengan agorafobia takut untuk pergi berbelanja di toko-toko yang penih sesak, bersempit-sempitan di bus, dan lain-lain yang kira-kira membuat mereka sulit meminta pertolongan .
Sebagian besar teori Skinner ialah ihwal perubahan tingkah laku, belajar, dan modifikasi tingkah laku, karena itu dapat dikatakan bahwa teorinya yang paling relevan dengan perkembangan kepribadian. Bersama dengan banyak teoritikus, Skinner yakin bahwa pemahaman ihwal kepribadian akan tumbuh dari tinjauan ihwal perkembangan tingkah laku insan dalam interaksinya yang terus menerus dengan lingkungan. Konsep kunci dalam sistem Skinner ialah prinsip perkuatan, maka pandangan Skinner seringkali disebut teori perkuatan operan.

Konsep perkembangan kepribadian dalam pengertian menuju kemasakan, realisasi diri, transendensi dan unitas kepribadian tidak diterima Skinner. Memang ada kemasakan fisik, yang membuat orang menjadi berubah, lebih peka dalam mendapatkan stimulus dan lebih tangkas dan tanggap dalam merespon. Urutan kemasakan fungsi fisik yang bersifat universal sebetulnya memungkinkan penyusunan periodesasi perkembangan kepribadian, namun tidak dilakukan Skinner karena ia memandang pengaruh eksternal lebih secara umum dikuasai dalam membentuk tingkah laku.  Peran lingkungan yang secara umum dikuasai dalam perkembangan oraganisme, digambarkan secara ekstrim oleh Watson sebagai pakar behavioris. 
Keistimewaan kelompok respon ini menimbulkan Skinner memakai istilah “operan”. Operan ialah respon yang beroperasi pada lingkungan dan mengubahnya. Perubahan dalam lingkungan selanjutnya mensugesti terjadinya respon tersebut pada kesempatan berikutnya. Skinner menyatakan dengan penuh keyakinan bahwa kepribadian tidak lain ialah kumpulan teladan tingkah laku, Skinner yakin kita dapat memprediksikan, mengontrol, dan menjelaskan perkembangan-perkembangan ini dengan melihat bagaimana prinsip perkuatan bisa menjelaskan tingkah laku individu pada dikala ini sebagai akhir dari perkuatan tahap respon-responnya dimasa lalu. Jadwal perkuatan juga dapat dibentuk dengan mengabaikan faktor waktu dan banyaknya hadiah yang diperoleh itu semata-mata tergantung pada tingkah lakunya sendiri.
Skinner yakin bahwa pemerkuat-pemerkuat terkondisi atau pemerkuat-pemerkuat sekunder sangat penting untuk mengontrol tingkah laku manusia. Perkuatan terkondisi merupakan suatu konsep eksplanatorik atau penjelasan yang sangat bisa diandalkan. Jadi, pengertian ihwal perkuatan terkondisi ialah penting dalam sistem Skinner, dan menyerupai akan kita liat bahwa Skinner menggunakannya secara efektif untuk menjelaskan dipertahankan atau terpelihara banyak respon yang terjadi sebagai bab dari tingkah laku sosial kita.
Pengertian ihwal Generalisasi stimulus juga penting dalam sistem Skinner, sebagaimana pengertian itu penting dalam semua teori kepribadian yang berasal dari belajar. Skinner tidak merumuskan generalisasi stimulus maupun deskriminasi stimulus dalam arti proses perseptual atau proses internal lainnya. Skinner merumuskan masing-masing konsep itu sebagai hasil-hasil pengukuran respon dalam situasi eksperimental yang dikontrol secara cermat. Kebanyakan aspek kepribadian muncul dalam suatu konteks sosial, dan tingkah laku sosial merupakan ciri penting tingkah laku insan pada umumnya. Satu-satunya ciri tingkah laku sosial ialah fakta bahwa Skinner melibatkan interaksi antara dua orang atau lebih. Selain itu, tingkah laku sosial tidak dipandang berbeda dari tingkah laku lainya, karena Skinner yakin bahwa prinsip-prinsip yang menentukan perkembangan tingkah laku dalam suatu lingkungan yang terdiri dari benda-benda hidup.

Sebelum kita mengetahui tipe-tipe kepribadian hendaknya mengetahui apa itu kepribadian. Menurut Pervin (2000) :

“Personality represent those characteristic of the person that account for consistent pattern of feeling, thinking and behaving.”
Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa kepribadian merupakan penentu karakteristik dari seseorang yang menentukan bagaimana ia merasa berfikir dan bertingkah laku.
Dalam dunia psikologi, dikenal yang namanya 4 tipe kepribadian yaitu: Sanguinis, Melankolis, Koleris & Plegmatis, atau ada juga yang pribadi mengategorikannya sesuai dengan sifat mayoritas masing-masing tipe, yaitu: Sanguinis Populer, Melankolis Sempurna, Koleris Kuat & Plegmatis Damai.
1. Tipe Sanguinis
Tipe kepribadian ini dikatakan pula “Populer” dan “Pembicara”. Adalah tipe yang sangat bersemangat, terlihat selalu tampak ceria, pergaulannya yang hangat dan sangat menikmati kehidupannya (walau dalam kondisi apapun).
Ciri lainnya dari tipe sanguinis ini, dikala harus mengambil satu keputuan cenderung lebih mendasarkan perasaan daripada pemikirannya, serta selalu mencari kesenangan, tidak suka membiarkan hatinya terlarut dalam kesedihan.
Gaya tersendiri dalam bicaranya bersuara keras dan ramah membuatnya tampak percaya diri lebih daripada yang sebenarnya, sangat cerdik menularkan peasaan semangat kepada orang lain.
Tipikal orang Sanguinis merupakan pribadi yang menyenangkan jadi tidak salah kalau banyak orang yang menyukainya (walau kadang ada yang tidak suka alasannya yaitu cerewetnya. Dia ingin merasa dirinya dikenal banyak orang, ide-idenya kreatif dan inovatif mirip ide-ide orang sukses, ingin dirinya isu terkini setter biar orang lain mengikuti jejaknya.
2. Melankolis
Tipe kepribadian ini dikatakan pula “Pemikir” dan “Sempurna”. Adalah tipe insan yang dalam pergaulannya itu bersifat tempramen, memiliki rasa seni yang tinggi, akurasi pikirannya lebih akurat, terkadang sangat sensitif, bakatnya menonjol, dan ia rela berkorban demi apapun yang dibelanya.
Kepribadian perfeksionis, suka menyalahkan dirinya sendiri yang terkadang menjadi rendah diri. Manusia yang mempunyai tipe kepribadian ini lebih mengedepankan perasaan ketimbang yang lainnya. Ia yaitu orang yang introvert tapi apabila ia sedang berada dalam puncak suka citanya, ia bisa saja menjadi lebih extrovert. Akurasi analitisnya terkadang bisa memperhitungkan bahaya, halangan, atau bahkan kerugian yang mungkin dapat menimpa dalam setiap proyek. Tetapi alasannya yaitu tipe orang ini perasaannya sangat peka dan sensitif dapat membuat mereka menjadi pendendam dan sering terlihat murung. Orang melankolis cenderung memilih pekerjaaan yang membutuhkan pengorbanan dan ketekunan, sekali ia memilih sesuatu maka ia akan tetap setia mengerjakannya.
Tipe Melankolis ini dikatakan pribadi yang cerdas alasannya yaitu selalu memikirkan langkah apa yang akan diambil dalam problem solving/ memecahkan masalah. Walau terkadang terlalu lama dalam mengambil keputusan alasannya yaitu ia selalu memikirkannya matang-matang biar ia menerima segala sesuatunya itu sempurna. Melankolis ini seorang sahabat yang setia, tidak suka menghianati teman. Dan juga ia ini menyerupai orang yang suka bekerja dibalik layar, tidak terlalu ingin dirinya menjadi sentra perhatian.
3. Koleris
Tipe kepribadian ini dikatakan pula “Kuat” dan “Pelaku”. Adalah tipe insan yang sangat ambisius, mempunyai kemampuan berpengaruh dalam menggapai sesuatu  yang diinginkannya. Cirinya terlihat berapi-api, aktif, praktis, cekatan, berdikari dan independen.  
Gayanya bersikap tegas dan berpendirian keras dalam mengambil keputusan bagi dirinya sendiri dan orang lain. Tidak terpengaruh oleh lingkungan, terkadang justru ia mensugesti lingkungannya. Ide-idenya, rancangan, sasaran, dan ambisinya tidak pernah berakhir. Pantang mengalah terhadap tekanan.
Kelemahan dari seorang koleris yaitu emosinya, ia mempunyai tempramen yang meledak-ledak. Ia tidak mudah bersimpati kepada orang lain. Ia bukan orang yang dengan mudah mengekspresikan perasaannya kepada orang lain. Ia cnderung tidak peka terhadap kebutuhan orang lain. Ia cenderung bersifat mayoritas dan memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat.
Tipikal Koleris yaitu tipe orang yang berjiwa pemimpin, menyadari kesalahannya dan kemudian memperbaiki kesalahannya, punya kemauan berpengaruh untuk meraih sesuatu yang diinginkan, biasanya aktif dalam suatu kegiatan, orang sibuk, menargetkan apa yang akan dicapai.
4. Phlegmatis
Tipe kepribadian ini dikatakan pula “Damai” dan “Pengamat”. Adalah tipe insan yang memiliki sifat alamiah pendamai, tidak suka kekerasan. Merupakan orang yang mudah diajak bergaul, ramah dan menyenangkan. Ia yaitu tipe orang yang bisa membuat sekelompok orang tertawa terbahak-bahak oleh humor-humor keingnya meski ia sendiri tidak tertawa.
Merupakan pribadi sangat konsisten, tenang dan jarang sekali terpengaruh dengan lingkungannya, tidak pernah terlihat gelisah. Dibalik pribadinya yang hambar dan malu-malu. Sesungguhnya ia memiliki kemampuan untuk dapat lebih mencicipi emosi yang terkandung pada sesuatu. Karena sifatnya yang menyukai kedamaian dan tidak menyukai pertikaian, ia cenderung menarik diri dari segala macam keterlibatan. Hal inilah yang sering kali menghambatnya untuk menyampaikan kemampuannya secara total dan menjadi cenderung pasif dan pemalas. 
Tipe orang Phlegmatis merupakan pribadi yang tabah dan senang menghadapi masalah, emosinya tidak meluap-luap dikala ia bahagia atau sedih, pendiam, bisa bekerja dalam tekanan, tidak suka pertengkaran, hati-hati dalam berucap kepada orang lain, menyenangkan